Jenis Makanan Ramah Lingkungan yang Baik untuk Tubuhmu

08 Aug 2026

Jenis Makanan Ramah Lingkungan yang Baik untuk Tubuhmu

Penulis

Bobobox

Ada banyak hal yang bisa kamu lakukan untuk ikut menjaga kelestarian lingkungan. Salah satu hal yang mungkin jarang terpikirkan oleh banyak orang adalah mengonsumsi makanan ramah lingkungan. Selain ikut mengurangi jejak karbon, memilih makanan ramah lingkungan juga dapat mendukung gaya hidup sehat yang kini banyak orang gandrungi. 

 

Konsep ini juga sejalan dengan Planetary Health Diet yang EAT-Lancet Commission perkenalkan, yaitu pola makan yang berusaha menyeimbangkan kebutuhan nutrisi manusia dengan kesehatan planet. Salah satu caranya adalah dengan lebih banyak memilih bahan makanan nabati dan memperhatikan jejak karbon dari makanan yang kita konsumsi.

 

Jenis Makanan Ramah Lingkungan yang Baik untuk Kesehatan

 

Vegan salad bowl-Sayuran
Photo: Anna Pelzer via Unsplash

 

Melansir berbagai sumber, berikut ini adalah jenis makanan ramah lingkungan yang tak hanya sehat untuk tubuh, tetapi juga untuk lingkungan sekitar.

 

Sayuran Hijau

 

Sayuran hijau bukan hanya baik untuk kesehatan, tanaman satu ini juga menjadi salah satu jenis makanan ramah lingkungan. Kamu pun bisa dengan mudah menjumpai berbagai jenis sayuran ini di pasaran, seperti kangkung, kale, bayam dan lainnya.

 

Dari sisi kesehatan, tanaman satu ini memiliki banyak manfaat karena berbagai kandungan nutrisinya. Sebut saja serat, karotenoid yang dapat mengatasi radikal bebas, vitamin A, C dan K, serta berbagai unsur mineral seperti zat besi, kalsium, magnesium dan fosfor.

 

Di samping manfaat kesehatan dari kandungan nutrisinya, sayuran hijau juga menjadi salah satu yang teratas dalam kategori makanan ramah lingkungan. Pasalnya, sayuran hijau umumnya membutuhkan lebih sedikit sumber daya untuk menghasilkan produk dalam jumlah besar.

 

Jamur

 

Tumbuhan lainnya yang termasuk makanan ramah lingkungan adalah jamur. Seperti yang kamu tahu, jamur memiliki banyak varietas yang bisa kamu makan. Tumbuhan ini juga memiliki rasa yang enak serta kaya akan kandungan protein dan serat.

 

Berdasarkan keterangan WWF (World Wildlife Fund), jamur bisa tumbuh di tempat-tempat yang tidak memungkinkan bagi tanaman lain untuk tumbuh, termasuk pada produk sampingan hasil daur ulang dari tanaman lain.

 

Laporan lain dari Mushroom Council pada tahun 2017 menunjukkan penggunaan air dan energi yang lebih sedikit pada 1 pound (454 gram) jamur daripada dengan tanaman pertanian lainnya. Penggunaan air tersebut memiliki perbandingan yang cukup jauh, yaitu sekitar 1:25. 

 

Penghematan tersebut juga menghasilkan tingkat emisi CO2 yang rendah. Para peneliti menyusun laporan tersebut setelah mengkaji dampak jamur terhadap lingkungan selama dua tahun. 

 

Rumput Laut

 

Masyarakat Asia Timur dan Romawi sudah berabad-abad merasakan manfaat rumput laut, baik sebagai santapan sehari-hari maupun sebagai obat untuk kesehatan dan penyembuh luka. Tanaman satu ini memang kaya akan kandungan nutrisi, misalnya asam lemak omega-3, yodium, vitamin C, protein dan masih banyak lagi yang tentunya baik untuk kesehatan tubuh.

 

Tak hanya kaya akan nutrisi, rumput laut juga termasuk salah satu makanan ramah lingkungan. Seperti tanaman pada umumnya, rumput laut dapat menyerap karbon dioksida. Tanaman satu ini juga dapat mengurangi asidifikasi lautan.

 

Bukan cuma itu, mengutip laporan WWF, rumput laut merupakan tanaman kaya nutrisi yang berperan penting dalam ekosistem laut dan produksi oksigen. Dengan kata lain, keberadaan rumput laut memungkinkan mikroorganisme dan kehidupan laut untuk tetap subur.

 

Organisasi tersebut juga menyebut rumput laut sebagai game changer karena kemampuannya untuk tumbuh luas di lautan. Selain itu, makanan ramah lingkungan ini juga memiliki kemampuan untuk panen sepanjang tahun dan tidak memerlukan penggunaan pestisida atau penyubur seperti yang umumnya tanaman darat butuhkan.

 

Kerang-Kerangan

 

Selain rumput laut, kerang-kerangan seperti remis, kerang dan tiram juga menjadi jenis makanan ramah lingkungan. Hewan satu ini mungkin tidak begitu populer jika kamu bandingkan dengan makanan laut lainnya. Namun, untuk manfaat kesehatan, kamu tidak perlu meragukannya. Makanan ramah lingkungan ini kaya akan:

 

  • Protein
  • Vitamin A yang baik untuk kesehatan mata
  • Mineral seperti zat besi (untuk memperlancar peredaran darah) dan selenium (untuk menangkal radikal bebas, mencegah penuaan dini, menjaga kesehatan otak, dan lainnya)

 

Meski terbilang amis dan banyak yang menganggap beracun, remis kebanyakan merupakan hasil panen yang terbilang sederhana. Petani remis hanya perlu menggunakan tali-tali panjang yang terbentang di laut.

 

Remis kemudian akan menempelkan dirinya sendiri pada tali tersebut. Mereka tidak perlu memberi makan hewan-hewan tersebut. Tinggal tunggu saja sekitar dua tahun, dan petani bisa mulai panen.

 

Kerang-kerangan biasanya memperoleh makanan dengan menyaring air di sekitarnya. Berkaitan dengan hal ini, para petani tentu akan memastikan kawasan air untuk pemancingan kerang dalam keadaan bersih. Proses panennya juga tidak mengakibatkan adanya tangkapan sampingan dalam jumlah besar ataupun kerusakan pada terumbu karang. Selain itu, keberadaan pemancingan kerang-kerangan tersebut juga bisa menciptakan mikrohabitat untuk ikan serta invertebrata kecil lainnya.

 

Kacang-Kacangan

 

Ada banyak contoh kacang-kacangan yang bisa kamu jumpai di sekitar kamu. Di antaranya adalah jenis legum (kacang polong, arab, kapri, hijau, kedelai, tanah, dan lentil) dan polong-polongan (kacang merah, hitam, pinto dan navy).

 

Untuk manfaat, tentu tidak perlu kamu ragukan lagi. Kacang-kacangan mengandung banyak nutrisi yang baik untuk kesehatan, seperti serat, protein, dan vitamin B. Setengah cangkir polong-polongan saja bisa memberi kamu sekitar 7 gram protein atau setara 28 gram daging merah.

 

Namun, selain menyehatkan tubuh, kacang-kacangan juga masuk ke dalam kategori makanan ramah lingkungan. Tanaman ini mampu mengubah nitrogen di udara menjadi senyawa yang berguna bagi tanaman, lalu mengikat senyawa tersebut ke dalam tanah tempatnya tumbuh. 

 

Dengan kata lain, kemampuan ini menekan kebutuhan tanah terhadap nutrisi tambahan dari pupuk atau penyubur buatan. Setelah masa panen usai, tanah juga menjadi lebih kaya nutrisi sehingga petani bisa segera memanfaatkannya kembali untuk bercocok tanam.

 

Bukan cuma itu, polong-polongan biasanya tidak membutuhkan banyak air sebab jenis tanaman ini sangat mengandalkan ‘air hijau’. Air hijau mengacu pada air presipitasi (hujan, salju atau embun) yang tersimpan di bagian akar lalu menguap atau tanaman manfaatkan untuk proses pertumbuhannya. 

 

Karena itu, kacang tanah, kedelai, dan berbagai jenis legum dapat menjadi pilihan yang relatif hemat air. Meski demikian, tidak semua jenis kacang memiliki kebutuhan air yang sama. Beberapa kacang pohon, seperti almond, membutuhkan air dalam jumlah cukup tinggi sehingga dampak lingkungannya dapat berbeda bergantung pada lokasi dan metode budidayanya.

 

Tomat

 

Melansir OneGreenPlanet, tomat termasuk salah satu jenis makanan ramah lingkungan yang meninggalkan jejak karbon yang minim. Selain itu, tanaman satu ini juga memiliki sistem akar yang cukup dalam, yaitu jenis akar tunggang. Selain berfungsi untuk penopang agar tidak rubuh, jenis akar ini membuat tomat mampu menyerap dan menjaga kelembapan secara alami dan baik. Dengan begitu, tomat tidak memerlukan banyak tambahan asupan air terutama di musim kering.

 

Namun, jejak karbon tomat juga bergantung pada cara dan tempat petani membudidayakan tanaman tersebut. Tomat yang petani tanam secara alami di lahan terbuka (open-field) dapat menjadi pilihan yang lebih ramah lingkungan, sedangkan tomat yang petani tumbuhkan di rumah kaca dengan pemanas berbasis energi fosil dapat menghasilkan jejak karbon yang jauh lebih tinggi.

 

Karena itu, jika ingin memilih tomat yang lebih ramah lingkungan, kamu bisa memprioritaskan tomat lokal yang sedang musim. Selain mendukung petani lokal, pilihan ini juga dapat mengurangi kebutuhan transportasi dan energi tambahan untuk memproduksi tomat di luar musim.

 

Ubi-Ubian dan Singkong

 

Tak hanya sayuran hijau, kamu juga bisa memasukkan ubi-ubian dan singkong ke dalam daftar jenis makanan ramah lingkungan. Tanaman seperti singkong, ubi jalar, dan berbagai jenis umbi dapat tumbuh di kondisi yang relatif beragam serta cukup tahan terhadap periode kering.

 

Dari sisi kesehatan, umbi-umbian merupakan sumber karbohidrat yang dapat menjadi alternatif makanan pokok. Beberapa jenisnya juga mengandung serat, vitamin, mineral, serta senyawa antioksidan. Singkong dan ubi dapat menjadi pilihan pangan yang menarik karena mampu tumbuh dengan memanfaatkan sumber daya secara relatif efisien.

 

Sorgum, Millet, dan Biji-Bijian Lokal

 

Kalau ingin mencoba alternatif selain nasi atau gandum, kamu juga bisa mengenal kelompok biji-bijian seperti sorgum, millet, buckwheat, dan quinoa. Banyak orang makin melirik bahan makanan ini dalam pembahasan future foods karena beberapa jenisnya dapat tumbuh dengan kebutuhan air yang relatif rendah dan lebih tahan terhadap kondisi cuaca yang kurang bersahabat.

 

Sorgum, misalnya, adalah tanaman yang cukup toleran terhadap kondisi kering. Sementara itu, millet juga dapat tumbuh di lingkungan dengan ketersediaan air yang terbatas. Dari sisi nutrisi, kelompok biji-bijian ini menyediakan karbohidrat, serat, protein, vitamin, dan mineral dalam jumlah yang berbeda-beda.

 

Untuk pilihan yang lebih lokal, kamu bisa mempertimbangkan sorgum sebagai salah satu alternatif pangan Indonesia. Selain membantu diversifikasi sumber karbohidrat, memilih bahan pangan yang dapat tumbuh sesuai kondisi wilayah juga berpotensi mendukung sistem pangan yang lebih berkelanjutan.

 

Biji Bunga Matahari dan Biji Labu

 

Biji-bijian seperti biji bunga matahari dan biji labu juga bisa menjadi pilihan jenis makanan ramah lingkungan. Keduanya mengandung protein nabati, lemak tak jenuh, serat, vitamin, serta sejumlah mineral yang tubuh butuhkan.

 

Jika kamu membandingkannya dengan banyak camilan olahan yang memakan berbagai tahapan produksi dan pengemasan, biji-bijian dapat menjadi alternatif sederhana. Kamu juga dapat mengonsumsi bahan ini sebagai camilan atau menambahkannya ke dalam salad, oatmeal, maupun makanan lainnya.

 

Selain itu, tanaman bunga matahari memiliki bunga yang dapat mendukung keberadaan serangga penyerbuk seperti lebah. Meski dampak lingkungan tetap bergantung pada metode petani saat membudidayakannya, memilih bahan pangan nabati yang minim proses dapat menjadi salah satu langkah kecil untuk mengurangi jejak lingkungan dari pola makan sehari-hari.

 

Pilih Makanan yang Baik untuk Tubuh dan Bumi

 

Pada akhirnya, jenis makanan ramah lingkungan yang kamu pilih tidak harus selalu berupa bahan makanan yang mahal atau sulit kamu temukan. Kamu bisa memulainya dari pilihan sederhana yang ada di sekitar, seperti sayuran hijau, kacang-kacangan, singkong, ubi, sorgum, atau bahan pangan lokal lainnya.

 

Selain memperhatikan jenis makanan, kamu juga bisa mempertimbangkan beberapa hal berikut saat berbelanja:

 

  • Pilih bahan makanan lokal dan sedang musim untuk mengurangi kebutuhan transportasi dan penyimpanan.
  • Lebih sering pilih bahan pangan nabati daripada makanan yang memakan sumber daya besar dalam proses produksinya.
  • Kurangi makanan yang melewati terlalu banyak proses pengolahan atau yang menggunakan kemasan berlebihan.
  • Belanja secukupnya agar makanan tidak berakhir menjadi sampah.

 

Dengan begitu, kamu tidak harus menerapkan pola makan yang lebih ramah lingkungan secara drastis. Kebiasaan kecil yang kamu lakukan secara konsisten juga dapat menjadi bagian dari gaya hidup yang lebih berkelanjutan.

 

Nikmati Pengalaman Menginap Istimewa di Bobobox!

 

Kamar tidur Bobopod Airport CBC
Photo: Bobobox Internal Asset

 

Pikiran dan emosi juga dapat memengaruhi kesehatan tubuh. Karena itu, tidak ada salahnya sesekali meluangkan waktu untuk beristirahat, berlibur, atau sekadar staycation. Setelah menjalani rutinitas sehari-hari, menikmati waktu tenang di tempat yang nyaman bisa menjadi pilihan untuk mengisi kembali energi.

 

Untuk pengalaman menginap yang praktis, kamu bisa memilih Bobopod, hotel kapsul dengan desain minimalis dan futuristik yang cocok untuk kamu yang ingin beristirahat di tengah kesibukan. Kalau lebih suka suasana alam, kamu bisa menjadikan Bobocabin sebagai pilihan untuk menikmati waktu santai dengan suasana yang lebih dekat dengan alam.

 

Baca juga

 

 

Mau mendapatkan harga yang lebih hemat? Kamu bisa memanfaatkan promo Early Booking Bobobox hingga 20% OFF untuk pemesanan Bobopod atau Bobocabin favoritmu. Caranya mudah, kamu cukup melakukan pemesanan minimal 7 hari (H-7) sebelum kedatanganmu.

 

Sudah menentukan pilihan? Yuk, download aplikasi Bobobox untuk mencari akomodasi, mengecek ketersediaan kamar, dan melakukan reservasi dengan lebih mudah!

 

Header image by: Dan Gold via Unsplash