Dengan makin marak dan besarnya kerusakan serta perubahan pada lingkungan, destinasi wisata di berbagai negara pun mulai berbenah untuk ikut mengedepankan konservasi alam. Inilah prinsip di balik wisata ramah lingkungan.
Destinasi wisata yang ramah lingkungan memang tersebar di penjuru dunia, salah satunya Indonesia. Memangnya, apa yang membuat tempat-tempat tersebut menarik? Cari tahu di sini, yuk!
Rekomendasi Destinasi Wisata Ramah Lingkungan
1. Islandia

Photo: Rudy Kirchner via Pexels
Islandia termasuk salah satu negara yang konsisten menjadi destinasi wisata ramah lingkungan. Negara satu ini terkenal dengan keberadaan fjord, mata air panas alami dan gunung berapinya.
Salah satu yang bisa kamu coba adalah Myvatn Nature Baths, tempat kamu bisa berendam air panas dengan dikelilingi pemandangan bukit berbalut salju. Selain itu, Islandia juga menawarkan kesempatan untuk melihat paus dan menjauh dari polusi cahaya sambil berburu Northern Lights (Aurora Borealis).
Sebagai wisata ramah lingkungan, Islandia memanfaatkan energi panas bumi untuk menghasilkan panas untuk pemanas ruangan dan listrik. Program perbaruan energi ini disebut-sebut menghasilkan jumlah energi hijau terbesar per kapita jika dibandingkan dengan negara lain.
Hal ini pun menjadikannya sebagai salah satu negara terhijau di dunia. Selain itu, Islandia juga menentang polusi laut dan mendukung praktik memancing berkelanjutan.
Baca Juga: Temukan Fenomena Alam Dan Hal-Hal Unik Berikut Ini Di Negara-Negara Skandinavia
2. Finlandia

Photo: SUOMI PHOTOGRAPHY via Pexels
Sebagai salah satu negara terbersih dan terhijau di dunia, Finlandia tentu menjadi tujuan yang tepat untuk wisata ramah lingkungan. Negara satu ini berkomitmen untuk mencapai netralitas karbon sebelum tahun 2050. Menjadi rumah bagi sekitar 40 taman nasional, 200.000 rusa kutub, dan lebih dari 1.000 spesies bunga, liburan musim panas di Finlandia menjanjikan banyak petualangan.
Kamu bisa menyambangi kota teluk Oululu yang menjadi gerbang menuju pedesaan dan pulau-pulau kecil yang belum terjamah. Selain itu ada juga kawasan Lapland yang menawarkan suasana khas negeri dongeng saat musim dingin tiba. Di sana, kamu berkesempatan untuk bermain ski serta menyaksikan Aurora Borealis.
3. Kepulauan Azores, Portugis

Photo: Svetlana Shemetiuk via Pexels
Terletak di barat Portugis, Kepulauan Azores pernah masuk dalam daftar Sustainable Destinations Global Top 100. Terdiri dari pulau-pulau kecil yang rimbun serta sejumlah danau kawah, Azores tentu sayang untuk kamu lewatkan.
Bukan hanya itu, komitmen mereka pada konservasi alam liar dan energi hijau menjadikan kepulauan ini salah satu destinasi wisata ramah lingkungan.
Kepulauan satu ini mengandalkan sejumlah sumber energi seperti angin, geothermal dan biomassa serta memiliki target untuk menaikkan energi bersih setiap tahunnya. Selain itu, berbagai aktivitas yang mereka tawarkan, seperti kegiatan menyaksikan burung, paus atau lumba-lumba, diatur dengan baik sehingga kehidupan alam liar dan lautnya tetap terjaga.
4. Selandia Baru

Photo: Tyler Lastovich via Pexels
Selandia Baru termasuk destinasi wisata ramah lingkungan yang 22% energinya berasal dari tenaga panas bumi. Negara satu ini juga berencana menghentikan penggunaan bahan bakar fosil memasuki tahun 2025.
Dikenal luas dengan lanskapnya yang sangat unik, Selandia Baru tidak jarang membuat orang merasa tengah berada di negeri antah berantah sebab alam liarnya masih asri dan tidak terjamah. Di negara ini, kamu bisa menikmati kehidupan alam liar setempat dengan:
- Kegiatan bird watching atau whale watching
- Mengunjungi kebun binatang yang dijalankan secara etis
- Melihat cacing bercahaya
- Mengunjungi peternakan
- Melihat Southern Lights (Aurora Australis)
5. British Columbia, Kanada

Photo: James Wheeler via Pexels
Berdasarkan Green Provincial Report Card, British Columbia mendapat ranking sebagai provinsi terhijau di Kanada. Hal ini tentunya didukung oleh berbagai aspek seperti pekerjaan dan bangunan hijau, efisiensi energi dan makanan organik.
Dengan garis pantai terjal serta banyaknya hutan rimbun, danau dan taman nasional, wisata ramah lingkungan ini memang cocok buat kamu yang suka bermain di alam. Ada banyak kegiatan menyenangkan yang bisa kamu lakukan saat berkunjung ke sana. Sebut saja hiking, rafting, bermain kano, memancing, berkuda hingga melihat kehidupan hewan liar.
Baca Juga: Buat Liburanmu Makin Seru Dengan Rekomendasi Watersport Bali Berikut Ini
6. Kosta Rika

Photo: Diego Madrigal via Pexels
Kosta Rika juga terkenal sebagai salah satu destinasi wisata ramah lingkungan. Pemerintah negara tersebut menjadikan perlindungan keanekaragaman hayati sebagai prioritas. Karenanya, tidak mengherankan jika mereka menghasilkan hampir 93% tenaga listrik dari energi terbarukan. Alam liar serta ekologinya juga terlindungi sehingga disebut-sebut menyumbang sekitar 5% total biodiversitas planet ini.
Jika kamu ingin mengunjungi Kosta Rika karena alasan tersebut, Semenanjung OSA bisa menjadi pilihan. Sebagai surga tropis liar yang khas dengan hutan belantaranya, kawasan satu ini menawarkan tur berpemandu, kegiatan serta akomodasi yang bertujuan memberi dampak rendah pada lingkungan dan pendapatan positif bagi masyarakat sekitar.
7. Rwanda

Photo: Rwanda Lens via Pexels
Selama berabad-abad, Rwanda telah berjuang melindungi keberadaan gorila gunungnya yang terancam punah. Sejak tahun 2017, negara tersebut bahkan menaikkan izin trekking gorila dari 750 dolar Amerika (sekitar Rp 10 juta) menjadi 1.500 dolar (sekitar Rp 21 juta) sebagai bentuk dari pariwisata berkelanjutan dan dukungan terhadap masyarakat setempat.
Selain itu, mereka juga memperkenalkan kembali bada hitam ke Akagera National Park 10 tahun setelah pemburuan liar nyaris memusnahkan populasinya.
Di luar konservasi hewan, Rwanda juga termasuk salah satu negara yang melarang penggunaan kantung plastik. Selain itu, mereka juga berupaya lebih banyak menggunakan energi berkelanjutan serta mengembalikan 30% hutannya.
8. Palau, Micronesia

Photo: Mikhail Nilov via Pexels
Destinasi wisata ramah lingkungan berikutnya adalah Palau, negara kepulauan di Samudra Pasifik yang merupakan bagian dari Micronesia. Negara satu ini terkenal dengan lautan birunya yang menjadi rumah bagi terumbu karang dan ratusan spesies ikan.
Salah satu yang menjadi daya tarik wisata adalah kegiatan menyelam sambil berenang dengan ubur-ubur di Danau Ubur-Ubur (Ongeim’l Tketau). Sementara itu, daratannya memiliki beragam hutan dan pantai yang masih belum tersentuh.
Palau sendiri berkomitmen untuk melindungi keindahan alam itu dengan melarang adanya aktivitas memancing di zona terumbu karang.
9. Bhutan

Photo: Peng Lim via Pexels
Terletak di kaki pegunungan Himalaya, Bhutan termasuk salah satu destinasi wisata ramah lingkungan yang paling jarang dikunjungi. Hal ini memang disengaja sebab pemerintah setempat hanya memperbolehkan pengunjung masuk melalui jasa travel agent resmi negara tersebut.
Bukan sembarang travel agent, kamu hanya boleh menggunakan agen yang sudah terdaftar di di situs resmi pariwisata Bhutan, yaitu ww.tourism.gov.bt. Harganya juga sudah dipatok sekitar Rp 2,7 juta per malam untuk musim dingin dan panas dan Rp 3,4 juta per malam untuk musim semi dan gugur.
Meski terdengar mahal, harga tersebut cukup setimpal mengingat Bhutan merupakan destinasi wisata ramah lingkungan yang 70% daratannya tertutup oleh hutan. Bukan hanya itu, Bhutan rupanya menyerap lebih banyak karbon dibandingkan dengan yang dikeluarkannya.
10. Indonesia

Photo: Ubud Monkey Forest Official Website
Meski belum sepenuhnya sadar tentang pentingnya wisata ramah lingkungan, beberapa wilayah di Indonesia sudah menerapkan wisata ramah lingkungan bahkan sudah sedari lama. Nah, Pulau Bali adalah salah satu di antaranya.
Jejak wisata ramah lingkungan ini di antaranya bisa kamu lihat lewat tempat-tempat di Ubud seperti Desa Penglipuran, Desa Petulu, Ubud Monkey Forest, dan Tegallalang Rice Terrace.
Desa Penglipuran berada di Bangli, tepatnya di Jl. Penglipuran, Kubu, Kec. Bangli (32 menit dari Bobocabin Ubud). Desa ini buka setiap hari pukul 08.00-18.30 WITA, jadi kamu punya banyak kesempatan buat menikmati wisata ramah lingkungan.
Untuk bisa masuk dan menikmati keindahan desa ini, kamu perlu membayar tiket masuk seharga Rp25.000/orang dewasa dan Rp15.000/anak.
Daya tarik Desa Penglipuran terletak pada keunikannya sebagai desa Bali Aga. Dengan kata lain, masyarakatnya masih setia pada tata ruang dan tradisi pra-Hindu kuno yang telah diwariskan turun-temurun. Kamu akan melihat deretan gerbang rumah yang seragam dan simetris, menciptakan pemandangan yang sangat memuaskan mata.
Lalu, apa saja yang bisa kamu lakukan di sana? Tentu saja, berjalan kaki santai menyusuri jalan setapak yang bersih, mengagumi arsitektur tradisional, dan berinteraksi dengan penduduk lokal yang ramah.
Psst, ada satu tips rahasia spesial buat kamu, nih. Pastikan kamu berjalan terus ke bagian bawah desa hingga menemukan Hutan Bambu yang rimbun. Di sana, kamu bisa merasakan suasana hutan sejati dan bahkan mampir ke restoran yang tersedia.
Menariknya, restoran di area hutan tersebut menyediakan layanan antar-jemput gratis untuk mengembalikanmu ke area parkir di atas, jadi kamu nggak perlu capek mendaki setelah menikmati hidangan dan jungle vibes.

Photo: Sua Truong via Unsplash
Selain Desa Penglipuran, ada juga destinasi wisata Desa Petulu di Banjar Petulu Gunung, Ubud, Gianyar (19 menit dari Bobocabin Ubud). Desa ini terkenal sebagai rumah bagi ribuan burung kuntul kerbau, alias kokokan kalau disebut oleh warga lokal. Musim berkembang biak kokokan ini terjadi antara Oktober hingga Maret.
Desa Petulu nggak mengenakan biaya tiket masuk alias HTM gratis untuk menikmati keindahan alam pedesaan dan fenomena satwa luar biasa ini. Meski buka 24 jam, waktu paling ideal untuk berkunjung adalah saat sore hari. Sebab, pada waktu itulah ribuan kokokan akan pulang secara berkelompok dan terbang melingkar di langit senja Desa Petulu sebelum hinggap di pepohonan tinggi.
Burung kokokan dilindungi karena dianggap suci oleh warga Desa Petulu. Namanya mirip dengan Ida Gede Kokokan, yang diyakini sebagai peliharaan dewa pura dan pelindung desa sejak tahun 1965. Masyarakat di sini memelihara hubungan sakral tersebut dan bahkan mengadakan ritual penghormatan setiap enam bulan sekali.
Terus, kalau kita bicara tempat wisata ramah lingkungan di Bali, tentu kita nggak bisa melupakan Ubud Monkey Forest di Jalan Monkey Forest yang berjarak sekitar 34 menit aja dari Bobocabin Ubud.
Destinasi ini berfungsi sebagai pusat konservasi penting yang diyakini oleh warga desa. Hutan seluas 12,5 hektare ini menampung ribuan monyet ekor panjang yang hidup semi-bebas dan 186 spesies pohon.
Setibanya di sini, kamu bisa menyusuri area hutan untuk mengamati gerak-gerik para monyet ekor panjang atau melihat area-area suci yang sarat akan elemen agama Hindu. Jadi, kamu dapat sekalian mengagumi arsitektur tradisional yang ramah lingkungan.
Tertarik mampir? Kamu bisa menjadwalkan kunjunganmu setiap hari antara pukul 09.00-17.00 WITA dengan HTM sebesar Rp80.000 saat weekdays dan Rp100.000 di akhir pekan.

Photo: Cak Pan via Pexels
Terakhir, ada Tegallalang Rice Terrace di Jalan Raya Tegallalang (5 menit dari Bobocabin Ubud) yang menyuguhkan pemandangan ikonik berupa terasering sawah tradisional Bali. HTM ke lokasi ini sangat terjangkau, yaitu hanya mulai dari Rp20.000 hingga Rp25.000.
Uniknya, sawah di sini masih menggunakan sistem irigasi Subak. Selaras dengan prinsip harmoni antara manusia dan alam, tentu sistem Subak sangat ramah lingkungan karena berupaya menekan konsumsi air.
Memang, Tegallalang Rice buka cukup lama setiap harinya, yaitu pukul 08.00-18.00 WITA. Namun, kamu disarankan kemari sebelum pukul 10.00 WITA karena udaranya masih sejuk, pencahayaannya masih cukup lembut buat foto-foto, dan tempatnya belum terlalu ramai.
Di sini, kamu bisa trekking menyusuri jalur sempit di antara sawah, menikmati pemandangan saat padi sedang hijau (di bulan Maret-April dan September-Oktober), mencoba ayunan yang membentang di atas lembah, atau sekadar bersantai sambil menyeruput air kelapa muda di kafe-kafe sekitar dengan pemandangan panoramik.
Baca Juga: Mencari Aksesoris Keren Di Bali? Simak Toko-Toko Aksesoris Berkelas Di Bali Berikut Ini!
Rekomendasi Penginapan Nyaman dan Ramah Lingkungan di Ubud

Photo: Bobobox Internal Asset
Kamu lagi cari tempat menginap yang nyaman dan ramah lingkungan dari destinasi wisata Ubud di atas? Coba nginap di Bobocabin Ubud! Bobocabin Ubud menyuguhkan konsep unik glamping di dalam Cabin kayu yang cozy dan dibangun secara berkelanjutan.
Selaras dengan inisiatif Sustainability Bobobox, setiap Cabin menggunakan material kayu daur ulang dan proses konstruksinya mirip seperti merangkai puzzle karena menggunakan sistem modular. Alhasil, proses pembangunan Cabin di Bobocabin Ubud nggak memakan waktu lama dan bisa menekan emisi karbon dari transportasi pengangkut material.
Selain itu, dengan sistem modular yang minimalis, ruangannya sangat jauh dari kata sempit. Justru, kamu bisa quality time bareng orang-orang tercinta di space yang lapang, entah dengan rebahan di atas kasur sambil melihat view hutan dan rerumputan ala padang sawah dari Smart Window, atau lesehan di lantai untuk main games bersama.

Photo: Bobobox Internal Asset
Memangnya, apa saja games yang bisa kamu coba saat staycation? Banyak banget! Host menyediakan kartu Uno, papan congklak, menara Uno Stacko, kartu Tentang Kita, peralatan melukis, dan mini projector untuk nonton film bersama sambil bersantai. Kamu tinggal sewa yang paling pas sama seleramu, deh.
Oh iya, kamu juga nggak perlu merogoh kocek terlalu mahal buat menikmati kenyamanan di Bobocabin Ubud yang ramah lingkungan. Apalagi, ada harga khusus all-in untuk Cabin, makanan, dan kegiatan wisata seru ke Ubud Monkey Forest serta tempat lainnya berkat promo Year End Getaway! Tentunya, ini lebih hemat daripada pesan secara masing-masing.
Gimana, tertarik liburan ramah lingkungan tanpa harus keluar dari Indonesia? Yuk, download aplikasi Bobobox dan pesan Cabin kamu sekarang sebelum kehabisan!
Featured Photo: Mikhail Nilov via Pexels
