16 Gunung Api Dorman Dunia, Bagai Raksasa Tertidur

10 Sept 2026

16 Gunung Api Dorman Dunia, Bagai Raksasa Tertidur

Penulis

Bobobox

Sebagai orang yang tinggal di negara Ring of Fire, kamu mungkin sudah mengenal gunung api aktif yang masih menunjukkan aktivitas seperti erupsi atau mengeluarkan lahar dan magma. Namun, ada juga gunung api dorman dunia yang sudah lama tidak mengalami erupsi, tetapi masih berpotensi kembali aktif.

 

Selain aktif dan dorman, gunung api juga dikenal dalam kategori punah. Jika gunung api punah dianggap tidak akan bererupsi lagi, gunung api dorman masih menyimpan potensi untuk kembali aktif setelah “tertidur” selama puluhan, ratusan, bahkan ribuan tahun.

 

Lalu, gunung apa saja yang pernah mengalami periode dormansi? Yuk, intip 16 gunung api yang paling dikenal berikut ini!

 

Daftar 16 Gunung Api Dorman Dunia 

 

1. Gunung Api Dorman Mauna Kea, Amerika Serikat

 

Mauna Kea merupakan gunung tertinggi dari lima gunung api di Big Island, Hawaii sekaligus tertinggi di dunia jika dihitung dari kaki hingga puncak. 

 

Dari atas permukaan laut, Mauna Kea hanya memiliki tinggi 4.205 meter, sementara Everest, sebagai puncak tertinggi dunia, mencapai 8.848 meter. Berbeda dengan Everest yang kakinya berada di atas tanah, kaki Mauna Kea berada di kedalaman 6.000 meter sehingga tinggi keseluruhannya mencapai sekitar 10.210 meter.

 

Erupsi terakhir dari Mauna Kea diperkirakan terjadi sekitar 4.600 tahun yang lalu. Meski begitu, gunung ini termasuk ke dalam kategori gunung api dorman dunia. Dengan kata lain, Mauna Kea masih masuk sebagai gunung api yang belum sepenuhnya punah secara vulkanik.

 

2. Gunung Api Sete Cidades, Portugis

 

Gunung api dorman dunia ini berlokasi di bagian paling barat Pulau São Miguel, Portugis. Gunung satu ini memiliki kaldera puncak selebar 5 km dengan kedalaman 457 meter yang diisi oleh Danau Hijau dan Biru. Kedua danau tersebut menjadi salah satu daya tarik utama bagi wisatawan karena perbedaan warnanya yang memukau.

 

Dengan ketinggian mencapai 856 meter, Sete Cidades diperkirakan telah erupsi sebanyak delapan kali sejak abad ke-15 (sekitar tahun 1444). Letusan keluar dari kaldera serta saluran bawah laut di dekat pesisir barat. Erupsi terakhirnya diketahui terjadi pada tahun 1880 juga dari saluran bawah laut.

 

3. Gunung Api Teide, Spanyol

 

Berlokasi di Kepulauan Canary, Gunung Teide merupakan puncak tertinggi Spanyol sekaligus salah satu gunung api terbesar di dunia jika diukur dari dasar laut. Jika dihitung dari lantai samudra, tinggi Gunung Teide mencapai sekitar 7.500 meter.

 

Erupsi terakhirnya terjadi pada tahun 1909 di kawasan El Chinyero. Sementara itu, aktivitas vulkanik Teide sendiri terus menjadi perhatian karena lokasinya berada di Pulau Tenerife yang memiliki populasi besar dan menjadi destinasi wisata populer.

 

Asosiasi Internasional Vulkanologi dan Kimia Interior Bumi menjadikannya salah satu dari Decade Volcanoes, yaitu kelompok gunung api yang mendapat perhatian khusus karena sejarah erupsi dan potensi risikonya terhadap kawasan berpenduduk.

 

4. Gunung Ararat, Turki

 

Dengan ketinggian 5.137 meter, Gunung Ararat menjadi puncak tertinggi di Turki. Gunung ini terdiri dari dua puncak berlapis salju yang terpisah sejauh 11 km. Berdasarkan Alkitab, Gunung Ararat juga dipercaya menjadi lokasi mendaratnya Bahtera Nuh.

 

Sejumlah orang bahkan mengaku telah menemukan berbagai potongan bahtera di lereng gunung. Namun, klaim tersebut belum bisa menjadi bukti ilmiah yang dapat memastikan keberadaan Bahtera Nuh di Gunung Ararat.

 

Erupsi terbesar Ararat diperkirakan terjadi sekitar 10.000 tahun yang lalu. Sementara itu, aktivitas besar terakhir yang tercatat secara historis terjadi pada tahun 1840, ketika gempa bumi dan longsor besar melanda kawasan tersebut.

 

Baca juga: 12 Tips Mendaki Gunung bagi Pemula agar Tetap Aman dan Nyaman

 

5. Gunung Solfatara, Italia

 

Solfatara merupakan gunung berkawah dangkal yang menjadi bagian dari kawasan supervolcano Campi Flegrei. Meski masuk kategori gunung api dorman dunia, Solfatara masih mengeluarkan semburan uap dengan asap belerang melalui banyaknya fumarol di lantai gunung tersebut.

 

Gunung berapi ini diperkirakan terbentuk sekitar 4.000 tahun lalu dan erupsi terakhirnya terjadi pada tahun 1198. Erupsi tersebut kemungkinan berupa letusan freatik, yaitu letusan yang dipicu oleh interaksi panas vulkanik dengan air.

 

6. Gunung Hood, Amerika Serikat

 

Dengan ketinggian mencapai 3.426 meter, Gunung Hood menjadi puncak tertinggi di Oregon. Gunung api ini terakhir mengalami erupsi pada sekitar tahun 1865 dan masih dipantau karena memiliki tingkat potensi ancaman yang tinggi.

 

Gunung Hood telah mengalami aktivitas vulkanik selama ratusan ribu tahun dan memiliki riwayat pembentukan kubah lava, aliran piroklastik, serta lahar. Oleh sebab itu, meskipun terlihat tenang dalam waktu lama, kawasan ini tetap menjadi bagian penting dalam pemantauan gunung api di Amerika Serikat

 

7. Gunung Agua de Pau, Portugis

 

Agua de Pau merupakan gunung api dorman yang terletak di Pulau São Miguel. Sebuah kaldera terbentuk sekitar 15.000 tahun lalu dan diisi oleh Danau Lagoa do Fogo. Erupsi terakhirnya diperkirakan terjadi pada tahun 1563–1564. Selama periode aktivitas tersebut, terjadi perubahan besar pada kawasan kaldera yang membentuk lanskap vulkanik seperti yang terlihat sekarang.

 

Selain itu, pada 1988, Agua de Pau terdeteksi menunjukkan sejumlah aktivitas gempa bumi kecil dan getaran harmonik lemah.

 

8. Gunung Rainier, Amerika Serikat

 

Pemandangan indah di Gunung Rainier ternyata menyimpan potensi bahaya besar. Gunung ini dikenal sebagai salah satu gunung api yang paling mendapat perhatian dari otoritas Amerika Serikat karena lapisan es dan gletsernya yang sangat luas.

 

Jika terjadi aktivitas vulkanik besar, es dan salju tersebut dapat berkontribusi terhadap terbentuknya lahar yang mengalir ke wilayah sekitar. Inilah alasan banyak pihak terus memantau Rainier, terlebih karena terdapat banyak permukiman di kawasan sekitarnya.

 

Baca juga: Panduan Mendaki Gunung Abang Kintamani & Tipsnya

 

9. Gunung Shasta, Amerika Serikat

 

Dikenal sebagai puncak tertinggi kelima di California, Gunung Shasta memiliki beberapa kerucut vulkanik yang terbentuk selama ratusan ribu tahun. Berdasarkan catatan aktivitas selama ribuan tahun terakhir, Gunung Shasta memiliki sejarah erupsi yang menunjukkan bahwa gunung ini masih memiliki potensi aktivitas vulkanik.

 

Letusan di masa mendatang diperkirakan dapat menyemburkan abu, aliran lava, dan arus piroklastik. Hal tersebut dapat membahayakan infrastruktur yang berdiri dalam jarak puluhan kilometer dari gunung.

 

10. Gunung Kilimanjaro, Tanzania

 

Gunung Kilimanjaro memiliki tiga kerucut yaitu Mawenzi, Shira dan Kibo. Mawenzi dan Shira sendiri dianggap sudah punah sementara Kibo merupakan puncak tertinggi di antara ketiganya dan terbilang dorman.

 

Para peneliti memperkirakan bahwa erupsi terakhirnya terjadi sekitar 360.000 tahun lalu. Meski tidak ada erupsi besar dalam kurun waktu belakangan ini, aktivitas panas bumi dan keberadaan gas vulkanik menunjukkan bahwa kawasan vulkanik Kilimanjaro masih menarik untuk menjadi fokus penelitian.

 

11. Gunung Sinabung, Sumatera Utara

 

Kalau kamu pernah dengar berita tentang awan panas di Sumatera Utara, penyebabnya adalah Gunung Sinabung di Kabupaten Karo.

 

Gunung api ini punya tinggi sekitar 2.460 meter. Sebelum tahun 2010, Sinabung dianggap gunung api dorman karena nggak pernah meletus selama lebih dari 400 tahun. Catatan terakhir menunjukkan letusan terjadi pada tahun 1600-an, sebelum akhirnya bangun dari tidur panjangnya pada bulan Agustus 2010.

 

Muntahan abu, lahar, dan lava pijar akibat letusan Gunung Sinabung membuat banyak desa di sekitarnya harus dievakuasi. Setelah kembali bergeliat pada 2010 silam, Sinabung terus mengalami peningkatan aktivitas vulkanik dan terakhir kali erupsi pada 2021.

 

Karena itu, Sinabung menunjukkan bagaimana gunung api yang lama berada dalam kondisi dorman dapat kembali aktif. Status dan aktivitasnya juga dapat berubah sehingga siapa pun perlu memperhatikan informasi terbaru dari lembaga pemantauan resmi.

 

12. Supervolcano Toba, Sumatera Utara

 

Masih di provinsi yang sama dengan gunung berapi sebelumnya, ada satu nama yang mungkin sudah kamu kenal: Supervolcano Toba. Ya, Danau Toba yang indah itu sebenarnya terbentuk dari letusan gunung api super dahsyat sekitar 74.000 tahun lalu.

 

Bayangkan, letusan Toba saat itu bahkan dianggap sebagai salah satu peristiwa vulkanik terbesar dalam sejarah Bumi! Abu dari letusannya tercatat mencapai wilayah yang sangat luas dan peristiwa tersebut menjadi salah satu erupsi purba yang paling banyak dipelajari oleh para ilmuwan.

 

Sejak saat itu, Toba tidak pernah mengalami erupsi besar lagi. Namun, aktivitas geologi di kawasan kaldera tetap menjadi objek penelitian untuk memahami sistem vulkanik besar di bawah Danau Toba.

 

13. Gunung Sumbing, Jawa Tengah

 

Bergeser ke Jawa Tengah, ada Gunung Sumbing yang menjulang setinggi sekitar 3.370 meter dan berdampingan dengan Gunung Sindoro.

 

Gunung Sumbing memiliki catatan erupsi terakhir yang diketahui sekitar tahun 1730. Meski sudah lama nggak ada aktivitas vulkanik besar, bentuk kerucutnya yang khas dan kawah di puncaknya menunjukkan sejarah vulkanik yang membentuk lanskap gunung tersebut.

 

Sekarang, Sumbing lebih populer sebagai tujuan pendakian. Jalur pendakiannya menantang, tapi pemandangannya luar biasa. Kamu bisa melihat hamparan ladang di lereng dan lautan awan dari puncak.

 

14. Gunung Merbabu, Jawa Tengah

 

Di dekat Sumbing, Gunung Merbabu berdiri megah dengan ketinggian sekitar 3.145 meter. Gunung ini terkenal di kalangan para hiker karena pemandangannya yang hijau dan jalur pendakian yang relatif ramah. Dari puncak Merbabu, kamu bisa melihat panorama luar biasa, termasuk pemandangan langsung ke arah Merapi.

 

Eits, jangan salah sangka dulu; Merbabu dulunya juga gunung berapi aktif. Gunung ini memiliki sejarah aktivitas vulkanik, meskipun sudah sangat lama tidak mengalami erupsi. Kini, Merbabu lebih dikenal sebagai salah satu destinasi pendakian populer di Jawa Tengah.

 

15. Gunung Teon, Maluku

 

Pindah ke bagian timur Indonesia, ada Gunung Teon di Kepulauan Maluku. Gunung ini berada di Pulau Teon, salah satu pulau kecil di kawasan Laut Banda.

 

Meski kurang terkenal dibandingkan gunung-gunung di Pulau Jawa, Teon punya sejarah vulkanik yang cukup aktif di masa lalu. Berdasarkan catatan aktivitas vulkanik, erupsi terakhirnya terjadi pada awal abad ke-20 atau sekitar tahun 1904.

 

Gunung Teon memiliki bentuk kerucut dengan lereng yang menghadap ke kawasan laut. Karena letaknya yang jauh dari kota besar, gunung ini memang tidak sepopuler destinasi pendakian lain di Indonesia.

 

Namun, bagi para peneliti gunung api, kawasan ini tetap menarik untuk mempelajari aktivitas vulkanik di Indonesia bagian timur yang berada di wilayah tektonik aktif.

 

16. Gunung Lawu, Jawa Tengah

 

Bicara soal gunung berapi di Indonesia yang menarik dari segi geologis dan kisah spiritual, tentu kita nggak bisa melupakan Gunung Lawu di perbatasan Jawa Tengah dan Jawa Timur.

 

Gunung Lawu juga memiliki sejarah geologi yang kompleks. Ada laporan aktivitas pada abad ke-19, tetapi catatan tersebut tidak selalu dapat dipastikan sebagai erupsi vulkanik. Oleh sebab itu, sejarah aktivitas Lawu perlu dibedakan dari informasi populer yang langsung menyebut tahun tertentu sebagai erupsi terakhir.

 

Kini, Lawu menjadi salah satu gunung favorit pendaki karena punya udara sejuk dan sejumlah jalur pendakian. Selain hiking, banyak orang datang ke Lawu untuk berziarah atau mencari ketenangan batin.

 

Baca juga: Mengintip Kehangatan Bobocabin Gunung Rinjani: Cerita dari Kaki Gunung Lombok

 

Bobocabin: Teman Petualangan Menjelajahi Alam Indonesia

 

Bobocabin Signature Kawah Ciwidey, Bandung (85).jpg
Photo: Bobobox Internal Asset

 

Selain mengenal berbagai gunung api dorman dunia, Indonesia juga punya banyak pegunungan yang menawarkan pengalaman petualangan menarik. Salah satunya adalah kawasan Gunung Rinjani di Lombok yang terkenal dengan jalur pendakiannya yang menantang.

 

Tertarik menjelajahi Rinjani? Kamu bisa memilih Bobocabin Gunung Rinjani, Lombok, sebagai tempat beristirahat sebelum atau setelah menikmati petualanganmu di Pulau Lombok.

 

Setelah beraktivitas seharian, kamu bisa beristirahat di Cabin yang nyaman. Setiap Cabin dilengkapi berbagai fasilitas untuk membantu pengalaman menginap terasa lebih praktis dan nyaman, termasuk Smart Window yang dapat diatur melalui B-Pad.

 

Kalau ingin menikmati waktu santai, kamu juga bisa menghubungi Host untuk mengetahui pilihan aktivitas dan fasilitas yang tersedia selama menginap.

 

Jadi, setelah puas mengenal gunung berapi dari berbagai belahan dunia, jangan lupa siapkan petualanganmu berikutnya bersama Bobobox. Download aplikasi Bobobox untuk menemukan promo eksklusif dan memesan cabin lebih mudah!