Kalau liburan ke Bali, nggak melulu harus ke pantai atau beach club. Sesekali, coba deh mampir ke Desa Penglipuran Bali. Desa adat yang berada di Kabupaten Bangli ini terkenal karena lingkungannya yang bersih banget, rumah-rumah tradisional yang masih dipertahankan, dan kehidupan masyarakatnya yang tetap berpegang pada adat leluhur.
Nggak heran kalau Desa Penglipuran jadi salah satu destinasi favorit buat wisata budaya sekaligus tempat yang pas buat menikmati suasana Bali yang lebih tenang.
Berbeda dari kebanyakan objek wisata, Desa Adat Penglipuran menawarkan pengalaman yang lebih dekat dengan kehidupan masyarakat lokal. Kamu nggak cuma diajak melihat bangunan tradisional, tetapi juga bisa mengenal filosofi hidup masyarakat Bali yang masih dijalankan hingga sekarang.
Tentang Desa Adat Penglipuran Bali

Desa Adat Penglipuran berada sekitar 5 kilometer dari pusat Kota Bangli atau kurang lebih 1,5 jam perjalanan dari Denpasar. Lokasinya berada di ketinggian sekitar 700 mdpl di kaki Gunung Batur, jadi udaranya terasa lebih sejuk dibandingkan kawasan wisata di pesisir Bali.
Konon, Desa Penglipuran sudah ada sejak sekitar 700 tahun lalu. Leluhur masyarakatnya berasal dari Desa Bayung Gede, salah satu komunitas Bali Aga yang masih mempertahankan tradisi Bali kuno. Nama "Penglipuran" sendiri berasal dari kata Pengeling Pura, yang berarti mengenang leluhur. Filosofi itu masih terasa sampai sekarang melalui cara masyarakat menjaga adat, lingkungan, dan kehidupan sosial mereka.
Menariknya lagi, sejak ditetapkan sebagai desa wisata pada 1993, masyarakat tetap memegang prinsip bahwa pariwisata nggak boleh mengubah adat yang sudah diwariskan secara turun-temurun. Justru wisatawanlah yang diajak untuk memahami budaya yang sudah lebih dulu hidup di sini.
Berkat komitmen itu, Desa Wisata Penglipuran berhasil meraih berbagai penghargaan internasional, termasuk masuk dalam daftar Desa Wisata Terbaik Dunia versi UN Tourism.
Kalau berencana datang, tiket masuk Desa Penglipuran untuk wisatawan domestik berkisar Rp25.000 untuk dewasa dan Rp15.000 untuk anak-anak. Sementara itu, wisatawan mancanegara dikenakan tarif yang berbeda. Harga tiket Desa Penglipuran bisa berubah sewaktu-waktu, jadi ada baiknya cek informasi terbaru sebelum berkunjung.
Lokasi Desa Adat Penglipuran Bali
Bagi kamu yang tertarik mengunjungi desa wisata Penglipuran Bali kamu bisa kunjungi Desa Kubu, Kabupaten Bangli, Provinsi Bali. Jika bicara Bali kamu mungkin hanya familiar dengan kawasan seperti Kuta dan Ubud sehingga tak banyak orang yang tahu letak Kabupaten Bangli.
Jika kamu pernah berwisata ke tempat wisata Kintamani atau Gunung Batur maka tempat tersebut merupakan wilayah dari Kabupaten Bangli.
Desa Wisata Penglipuran Bali: Jarak & Waktu Tempuh
Sebagian besar wisatawan akan lebih banyak memilih menginap di area tempat wisata bagian selatan Bali saat liburan ke pulau Bali seperti, Kuta, Seminyak, Legian, Jimbaran, Nusa Dua, Sanur.
Untuk membuat perjalanan kamu menuju desa wisata Penglipuran Bali lebih mudah kamu bisa coba menghitung perkiraan jarak dan waktu tempuh ke desa wisata Penglipuran Bali dari lokasi kamu menginap.
Jika kamu memulai perjalanan dari tempat wisata Kuta Bali seperti pantai Kuta maka jarak dari pantai Kuta ke desa wisata Penglipuran Bangli adalah kurang lebih 55 kilometer. jarak tersebut umumnya dapat ditempuh dengan perkiraan waktu perjalanan 1 jam 30 menit dengan lalu lintas lancar.
Jika kamu memulai perjalanan dari area tempat wisata Seminyak seperti Petitenget Seminyak maka perjalanan menuju desa wisata Penglipuran Bali berjarak 59 kilometer. Jarak tersebut dapat ditempuh dengan waktu sekitar 1 jam 40 menit.
Terakhir jika kamu memulai perjalanan dari tempat wisata Sanur ke desa wisata Penglipuran Bali maka waktu tempuh dan jarak menjadi lebih pendek. Perjalanan ini dapat tempuh sekitar 43 kilometer dengan waktu tempuh 1 jam 15 menit.
Desa Wisata Penglipuran Bali: Cara Menuju Lokasi Penglipuran Bali
Bagi kamu yang ingin mengunjungi tempat wisata di Bali ini kamu bisa mengunjunginya dengan beberapa pilihan moda transportasi. Umumnya jalan-jalan di pulau Bali memang paling cocok dilakukan dengan menggunakan kendaraan pribadi. Kamu bisa mencoba menyewa sepeda motor atau mobil. Namun jika kamu memulai perjalanan dari penhinapan yang berjarak cukup jauh dari desa ini maka sangat disarankan untuk menyewa kendaraan seperti mobil.
Hal ini dikarenakan sampai saat ini belum ada pilihan transportasi umum menuju ke Desa Penglipuran Bali. Bagi kamu yang membawa kendaraan pribadi kamu tak perlu khawatir karena temat wisata ini juga dilengkapi dengan tempat parkir yang lumayan luas dan lokasi parkir berdekatan dengan objek wisata. Kamu hanya perlu membayar biaya parkir sebesar Rp 5.000 / mobil. Sesampainya di desa Penglipuran kamu dilarang untuk membawa masuk kendaraan bermotor untuk memasuki desa. Oleh karena itu kendaraan akan di parkir di bagian luar desa.
Daya Tarik Desa Penglipuran Bali

Begitu melewati gerbang masuk, hal pertama yang langsung mencuri perhatian adalah jalan utama desa yang lurus dengan deretan rumah adat di kanan dan kiri. Nggak ada kendaraan bermotor yang berlalu-lalang di kawasan inti desa, jadi suasananya terasa tenang dan nyaman buat jalan kaki.
Desa Penglipuran juga dikenal sebagai salah satu desa terbersih di dunia. Kebersihan ini bukan karena banyak petugas kebersihan, melainkan hasil kebiasaan masyarakat yang menjaga lingkungan bersama-sama setiap hari. Jadi, hampir di setiap sudut desa kamu bakal melihat jalan yang rapi, tanaman yang terawat, dan halaman rumah yang bersih.
Kalau suka suasana alam, sempatkan juga berjalan ke kawasan hutan bambu seluas sekitar 45 hektare. Jalurnya cocok untuk trekking ringan sambil menikmati udara segar. Menariknya, bambu di sini bukan cuma mempercantik pemandangan, tetapi juga dimanfaatkan sebagai bahan bangunan dan kerajinan oleh warga setempat.
Buat yang hobi berburu foto, hampir setiap sudut desa terasa estetik. Nggak heran kalau banyak orang mencari referensi desa wisata Penglipuran foto sebelum datang.
Pagi hari biasanya menjadi waktu favorit karena cahaya matahari masih lembut dan suasananya belum terlalu ramai.
Arsitektur Rumah Adat Desa Penglipuran
Salah satu hal yang membuat Desa Penglipuran Bali begitu ikonik adalah bentuk rumah adatnya yang hampir seragam. Deretan angkul-angkul atau pintu gerbang tradisional berdiri rapi di sepanjang jalan utama, menciptakan pemandangan khas yang sulit ditemukan di tempat lain.
Di balik setiap gerbang, terdapat pekarangan yang dibagi menjadi beberapa bagian sesuai fungsinya. Ada merajan sebagai tempat suci keluarga, natah atau halaman tengah yang menjadi pusat aktivitas keluarga, dapur (paon), hingga beberapa bale yang digunakan untuk kegiatan sehari-hari maupun upacara adat.
Material alami seperti bambu masih banyak digunakan pada bagian atap maupun dinding bangunan. Selain menjaga karakter arsitektur Bali Aga, penggunaan bambu juga membantu rumah tetap terasa sejuk meski cuaca panas.
Menariknya, masyarakat nggak bisa sembarangan mengubah bentuk rumah. Aturan adat mengharuskan bangunan tetap mengikuti bentuk aslinya agar identitas Desa Adat Penglipuran tetap terjaga hingga generasi berikutnya.
Aturan Adat yang Masih Diterapkan
Meski menjadi destinasi wisata populer, kehidupan masyarakat Desa Penglipuran tetap diatur oleh awig-awig atau aturan adat yang masih berlaku hingga sekarang. Aturan inilah yang membuat desa tetap terasa hidup sebagai komunitas, bukan sekadar objek wisata.
Salah satu aturan yang paling terkenal adalah larangan poligami. Pelanggar akan dikenai sanksi adat yang cukup berat, termasuk dipindahkan ke area khusus di luar permukiman utama dan kehilangan sejumlah hak adat.
Selain itu, kendaraan bermotor juga nggak diperbolehkan masuk ke kawasan inti desa. Kebijakan ini membuat udara tetap bersih dan pengunjung bisa menikmati suasana desa tanpa terganggu oleh suara kendaraan.
Masyarakat juga punya tanggung jawab bersama untuk menjaga kebersihan lingkungan dan ikut serta dalam berbagai kegiatan adat maupun gotong royong. Karena itulah suasana Desa Penglipuran tetap terasa asri sekaligus hangat.
Festival Adat di Desa Penglipuran
Kalau ingin melihat Desa Penglipuran dalam suasana yang lebih meriah, datanglah saat Penglipuran Village Festival. Festival tahunan ini biasanya menghadirkan parade budaya, pertunjukan tari tradisional, pameran UMKM, hingga berbagai aktivitas yang melibatkan masyarakat setempat.
Salah satu momen yang paling ditunggu adalah parade Tari Pendet yang dibawakan secara massal serta parade gebogan yang menampilkan hasil bumi dan budaya Bali. Selama festival berlangsung, suasana desa jadi jauh lebih hidup karena wisatawan bisa melihat langsung bagaimana tradisi masih dijaga oleh masyarakat.
Di luar festival, warga juga rutin melaksanakan berbagai upacara adat sesuai kalender Bali. Kalau lagi beruntung, kamu bisa menyaksikan prosesi tersebut secara langsung. Pengalaman seperti ini tentu bikin kunjungan ke Desa Penglipuran terasa lebih berkesan dibanding sekadar berburu foto.
Lanjutkan Liburanmu di Bobocabin Ubud, Bali

Setelah puas menjelajahi Desa Penglipuran Bali, saatnya menikmati suasana alam yang lebih tenang di Bobocabin Ubud, Bali. Berlokasi di Tegallalang, kabin modern ini cocok untuk mengisi ulang energi setelah seharian berkeliling.
Selain kamar yang nyaman, kamu juga bisa menikmati fitur smart window untuk mengatur pencahayaan sesuai dengan suasana yang diinginkan.
Kalau malam mulai turun, manfaatkan area fire pit atau BBQ untuk menghabiskan waktu santai bersama keluarga maupun teman sambil menikmati udara sejuk khas Ubud. Rasanya pas banget untuk menutup hari setelah menjelajahi wisata budaya di Bangli.
Baca Juga:
Daripada galau nentuin rute lanjutan setelah dari Penglipuran, intip dulu saran destinasi yang 'kamu banget' lewat DMDU Quiz. Hasilnya bikin liburanmu terasa lebih personal! Biar urusan tempat singgah makin mulus, download aplikasi Bobobox di HP kamu. Reservasi Bobocabin maupun Bobopod favoritmu beres dalam hitungan detik buat bikin trip ke Bali makin nyaman!
Header image by: Ruben Hutabarat via Unsplash




