Halo Sahabat Bob! Artikel kali ini akan menyajikan review Bridgerton, sebuah serial Netflix yang menceritakan kisah sekelompok keluarga kelas atas di London pada awal abad ke-19. Tayang perdana pada tanggal 25 Desember 2020 lalu (season 1), serial ini sukses menyedot perhatian para penikmat serial Netflix di berbagai negara.
Hal ini tentu tidak lepas dari keterlibatan Shonda Rhimes (pemilik Shondaland) dan Chris Van Dusen (selaku sutradara) yang sebelumnya sukses menggarap serial Grey’s Anatomy dan Scandal. Lalu, apa sih yang menarik dari Bridgerton ini sampai-sampai musimnya yang pertama hingga yang keempat mencetak kesuksesan di Netflix?
Yang Harus Kamu Tahu Sebelum Membaca Review Bridgerton Season 1–4
1. Premis
Sebelum masuk ke review Bridgerton Season 1–4, ada baiknya kamu mengenal premis ceritanya terlebih dahulu. Dengan mengadaptasi novel terlaris karya Julia Quinn, Bridgerton merupakan period drama romantis dengan sentuhan modern. Pesta dansa, gaun mewah, kereta kuda, hingga tiara menjadi bagian dari kehidupan para bangsawan.
Ceritanya berpusat pada keluarga Bridgerton (The Tons) yang kaya raya, berusaha menemukan pasangan terbaik di tengah ketatnya musim perjodohan kaum bangsawan London. Namun, setiap langkah dan potensi skandal mereka dicatat oleh kolumnis surat kabar misterius Lady Whistledown (dubbing oleh Julie Andrews).
2. Tokoh dan Silsilah Keluarga dalam Cerita
Kalau mau mengikuti review Bridgerton dengan lebih mudah, kamu perlu tahu dulu hubungan antaranggota keluarganya, terutama keluarga Tons. Silsilahnya berawal dari Lord dan Lady Ledger, yang merupakan orang tua Violet Ledger. Keduanya berasal dari kalangan aristokrat dan menjadi bagian dari ton pada era Ratu Charlotte.
Violet kemudian menikah dengan Viscount Edmund Bridgerton. Dari pernikahan tersebut, lahirlah delapan anak: Anthony, Benedict, Colin, Daphne, Eloise, Francesca, Gregory, dan Hyacinth. Setelah Edmund meninggal, gelar Viscount Bridgerton diwariskan kepada putra sulungnya, Anthony.
Lalu, ada keluarga Basset yang terhubung dengan keluarga Bridgerton melalui Daphne. Daphne, putri keempat Violet dan Edmund, menikah dengan Simon Basset, Duke of Hastings. Berbeda dengan keluarga Bridgerton yang dipimpin oleh seorang viscount, Simon memiliki gelar duke yang secara hierarki lebih tinggi.
Sepanjang empat season, fokus cerita berpindah dari satu anggota keluarga ke anggota lainnya. Misalnya, season 4 ceritanya berfokus pada kisah cinta antara Benedict Bridgerton (si putra kedua yang terkenal sebagai playboy) dengan Sophie Baek (anak dari Lord Richard Gun) yang anggun dan cerdas.
3. Serial dengan Visual Mewah
Selain kisah romantisnya, tak sedikit review Bridgerton yang mengapresiasi dari segi visualnya. Mulai dari kostum, tata rambut, makeup, hingga dekorasi dibuat begitu detail sehingga kehidupan kaum bangsawan terasa super glamor.
Bahkan, hampir 7.500 potong busana dibuat untuk serial ini, termasuk 104 gaun yang dikenakan Phoebe Dynevor yang berperan sebagai Daphne.
Review Bridgerton Season 1
- Rotten Tomatoes Score: 87%
1. Fokus Cerita
Untuk review Bridgerton Season 1, adaptasi cerita utamanya berasal dari buku pertama karya Julia Quinn, yang bertajuk The Duke and I. Ceritanya berfokus pada Daphne Bridgerton, putri tertua keluarga Bridgerton yang baru memasuki debutante (acara perkenalan resmi dalam sistem pergaulan masyarakat kelas atas) dan musim perjodohan.
Berkat kecantikan dan sikapnya yang menawan, Daphne bahkan mendapat perhatian langsung dari Ratu Charlotte dan disebut sebagai salah satu diamond of the season. Di sisi lain, ada Simon Basset, Duke of Hastings, sekaligus sahabat dekat Anthony Bridgerton. Simon adalah seorang bangsawan bergelar duke yang justru bertekad untuk tidak menikah.
Daphne dan Simon memulai hubungan mereka dengan buruk, bahkan tidak ingin berhubungan satu sama lain. Namun, setelah reputasi Daphne mulai merosot akibat tulisan Lady Whistledown (bahwa Daphne bukanlah “the girl for the season”), Simon menawarkan sebuah kesepakatan, yaitu fake courtship alias pura-pura saling PDKT.
Tujuannya biar Daphne bisa kembali menarik perhatian para pelamar, dan Simon bisa terbebas dari para ibu yang sibuk menjodohkannya. Tentu saja, rencana pura-pura ini perlahan menjadi rumit ketika perasaan mulai ikut campur.
2. Plus Minus
Ada banyak alasan kenapa review Bridgerton Season 1 kebanyakan positif. Yang pertama soal karakter dan subplotnya. Meski kisah Daphne dan Simon menjadi main plot, serial ini nggak hanya bergantung pada romansa keduanya.
Misalnya, rasa penasaran Eloise terhadap identitas Lady Whistledown, persoalan Marina Thompson, hubungan Anthony dengan Siena, hingga persaingan dan dinamika keluarga Featherington.
Menariknya lagi, tema feminisme juga turut hadir di sini. Jadi, karakter perempuan di serial ini nggak dibuat dengan satu cetakan saja.
Ada Eloise yang kritis dan haus pengetahuan, Lady Danbury yang tegas, hingga Genevieve Delacroix yang mandiri dan pekerja keras. Masing-masing punya keinginan dan cara sendiri dalam menghadapi aturan sosial yang membatasi perempuan pada Era Regency tersebut.
Beberapa momen juga bikin Bob meneteskan air mata lho. Hanya saja, rasa penasaran lebih besar: bertanya-tanya skandal apa yang akan terungkap selanjutnya.
Sekarang, mari bahas review Bridgerton Season 1 dari segi kekurangannya. Menurut Bob, meski Bridgerton itu adiktif dan penuh warna, ada banyak adegan sensual dalam serial ini. Jadi, jelas ini bukan tontonan untuk anak-anak, ya.
Review Bridgerton Season 2
- Rotten Tomatoes Score: 78%
1. Fokus Cerita
Tayang perdana pada 25 Maret 2022, Season 2 mengalihkan sorotan kepada si putra sulung keluarga Bridgerton, yaitu Anthony. Sebagai viscount sekaligus kepala keluarga, Anthony memutuskan untuk segera mencari istri yang dianggap layak demi meneruskan nama keluarga.
Namun, alih-alih menikah karena cinta, ia justru menetapkan sejumlah kriteria dan berusaha mencari pasangan yang sesuai dengan kewajibannya sebagai bangsawan. Di tengah pencarian tersebut, Anthony bertemu dengan Kate Sharma, pendatang baru dari India yang datang ke London bersama ibu tirinya, Lady Mary, dan adiknya, Edwina.
Maksud dan tujuan dari kedatangan Keluarga Sharma adalah untuk menjodohkan Edwina. Namun, ternyata, Kate telah bersekongkol dengan kakek-neneknya yang telah lama berpisah untuk memberikan warisan kepada Edwina jika ia menemukan suami yang cocok. Jadi, taruhannya tentu saja sangat tinggi.
Kate tidak setuju kalau Anthony mendekati Edwina, terutama setelah ia tahu kalau Anthony ternyata hanya mencari istri karena kewajiban keluarga. Namun, Edwina justru merasa jatuh cinta kepada Anthony dan yakin bahwa dialah pria yang tepat untuknya.
Dari sinilah muncul formula klasik cinta segitiga. Anthony mencintai Edwina. Edwina mencintai Anthony, sementara Anthony dan Kate justru memiliki chemistry yang cocok.
2. Plus Minus
Sama halnya dengan Season 1, Bridgerton Season 2 juga sangat memanjakan mata. Episode pertamanya saja menampilkan sekitar 146 kostum.
Beberapa adegan juga mengambil lokasi di tempat ikonik Inggris seperti Syon Park Conservatory, Royal County of Berkshire Polo Club, dan Hampton Court Palace. Belum lagi, aransemen backsong-nya yang terasa pas banget untuk menggambarkan scene tertentu.
Namun, review Bridgerton Season 2 bukan berarti tanpa kekurangan. Salah satu yang cukup mengganjal adalah penggambaran isu ras. Kehadiran keluarga Sharma memang memberikan representasi Asia Selatan yang menarik. Hanya saja, serial ini terasa terlalu mudah mengabaikan konteks kolonialisme, perbudakan, dan ketimpangan rasial pada era tersebut.
Selain itu, menurut review Bridgerton versi Bob, alur cinta segitiga antara Anthony, Kate, dan Edwina terasa kurang kuat. Konfliknya memang punya potensi besar, tetapi perkembangannya terasa terburu-buru. Kilas balik tentang trauma Anthony setelah kematian ayahnya juga rasanya nggak perlu, deh.
Review Bridgerton Season 3
- Rotten Tomatoes Score: 84%
1. Fokus Cerita
Bridgerton Season 3 kali ini giliran Penelope Featherington (yang ternyata adalah Lady Whistledown itu sendiri) yang menjadi pusat cerita. Di awal season, Penelope berusaha mencari suami demi mendapatkan kehidupan yang lebih mandiri.
Di saat yang sama, hubungannya dengan Eloise sedang renggang. Eloise bahkan mulai dekat dengan Cressida Cowper, sosok yang sebelumnya menjadi salah satu rival Penelope. Situasi makin rumit ketika Colin Bridgerton (si putra ketiga) kembali dari perjalanan ke luar negeri.
Melihat Penelope kesulitan mendapatkan pasangan, Colin menawarkan diri untuk membantunya belajar menarik perhatian para pria. Ironisnya, rencana tersebut justru menjadi bumerang ketika Colin perlahan menyadari bahwa ia memiliki perasaan kepada Penelope. Dari sinilah, kisah cinta keduanya mulai berkembang.
Masalahnya, Penelope masih menyimpan rahasia besar sebagai Lady Whistledown. Hanya beberapa orang terdekat yang mengetahui identitasnya, sementara keberadaan surat kabar tersebut terus menjadi sumber gosip di kalangan ton.
Penelope bahkan harus berhati-hati ketika menulis tentang dirinya sendiri dan Colin agar tidak ada yang mencurigai bahwa dialah sosok di balik pena misterius tersebut. Selain kisah Penelope dan Colin, Season 3 juga dipenuhi subplot. Francesca mulai menjalani debutnya di kalangan bangsawan, usaha Anthony dan Kate untuk memiliki anak, dll.
2. Plus Minus
Percaya atau tidak, terlepas dari banyaknya alur cerita yang terjalin, menurut Bob, review Bridgerton Season 3 ini dipenuhi dengan pengorbanan emosional. Mulai dari Penelope yang harus mengorbankan banyak hal untuk mempertahankan identitasnya sebagai Lady Whistledown, bahkan reputasinya sendiri.
Sementara itu, Eloise juga mengalami perkembangan karakter yang cukup drastis setelah mengetahui bahwa sahabatnya, Penelope, adalah Lady Whistledown. Ia perlahan harus mengesampingkan egonya dan mempertanyakan kembali pandangannya tentang kehidupan perempuan bangsawan.
Namun, review Bridgerton versi Bob Season 3 ini masih terasa kalah dibandingkan dengan Season 2. Terlalu banyak subplot membuat perkembangan pasangan utama terasa kurang maksimal. Beberapa konflik juga terasa dipaksakan, termasuk motivasi pihak antagonisnya.
Selain itu, Bridgerton kan dikenal sebagai serial maraton. Namun, keputusan Netflix untuk merilisnya menjadi 2 bagian (Bagian 1 rilis 16 Mei 2024 dan Bagian 2 rilis 13 Juni 2024) sukses membuat para penggemar kesal, termasuk Bob.
Review Bridgerton Season 4
- Rotten Tomatoes Score: 82%
1. Fokus Cerita
Season 4 mengusung kisah cinta ala Cinderella dengan menghadirkan Sophie Baek, putri haram Lord Penwood yang dipaksa menjadi pelayan oleh ibu tirinya yang kejam. Kesempatan Sophie untuk melarikan diri sejenak datang ketika ia menghadiri pesta topeng. Di sana, ia bertemu Benedict Bridgerton, seorang bangsawan playboy artistik yang kaya raya.
Benedict langsung terpikat pada sosok Sophie yang terlihat misterius dengan jubah peraknya. Namun, saat mengetahui bahwa Sophie ternyata adalah seorang pelayan, Benedict tahu bahwa ia harus berhadapan dengan perbedaan kelas sosial yang tajam.
2. Plus Minus
Review Bridgerton Season 4 (Bagian 1 rilis 29 Januari 2026 dan Bagian 2 menyusul pada 26 Februari 2026) terasa mempesona sekaligus emosional. Pasalnya, season ini nggak hanya menyajikan romansa klasik, tetapi juga mengeksplorasi kehidupan perempuan dari kelas sosial.
Karena perbedaan kelas sosial yang jauh dengan Benedict, Sophie sendiri melihat kehidupan keluarga Bridgerton dari dua sisi, yaitu POV sebagai seorang pelayan sekaligus perempuan yang pernah berada di lingkungan bangsawan.
Selain Sophie, karakter perempuan lain juga mendapatkan ruang perkembangan yang menarik. Violet Bridgerton mulai membuka hati untuk kisah cinta baru, sambil tetap menghadapi berbagai persoalan kedelapan anaknya.
Eloise juga harus berhadapan dengan kenyataan bahwa menjadi perempuan lajang di kalangan bangsawan tetap memiliki konsekuensi, terlepas dari status dan kekayaannya. Ada pula unsur komedi yang membuat season ini nggak terlalu berat, salah satunya lewat tingkah Hyacinth Bridgerton.
Minusnya soal review Bridgerton di Season 4 ini adalah hilangnya salah satu elemen yang sebelumnya menjadi ciri khas serial, yaitu misteri Lady Whistledown. Setelah identitas Penelope terbongkar di Season 3, nggak ada lagi teka-teki tentang siapa penulisnya. Akibatnya, ketegangan yang dulu muncul dari setiap lembar gosip terasa berkurang.
Baca juga:
16 Rekomendasi Film Horor Terbaik, Dijamin Merinding!
Rekomendasi Film dan Series Netflix Seru yang Lagi Trending & Wajib Ditonton
Ini Dia 7 Film Trilogi Terbaik Sepanjang Masa. Favoritmu Masuk Nggak?
Ini Dia 10 Film India Terbaik yang Bisa Menjadi Inspirasi Binge-Watching Kamu!
Nonton Bridgerton? Saatnya Cari Tempat yang Nyaman!

Review Bridgerton sudah kamu baca sampai selesai, lalu pengen nyoba maraton serial ini karena penasaran? Nginep di Bobopod aja, yuk! Dengan Wi-Fi yang kencang, kamu bisa bebas streaming Bridgerton atau serial favorit kamu tanpa khawatir buffering. Pod-nya juga nyaman dan canggih lho. Ada fasilitas mood lamp dengan sekitar 16 warna yang bisa kamu sesuaikan.
Kalau ingin sekalian merasakan nuansa kawasan bersejarah ala period drama, coba menginap di Bobopod Kota Tua. Lokasinya tepat di depan Museum Fatahillah. Jadi, kamu bisa dengan mudah mengeksplor berbagai destinasi bersejarah di kawasan Kota Tua Jakarta tanpa perlu menempuh perjalanan jauh.
Pengalaman menginapnya juga serba praktis. Mulai dari check-in, akses masuk pod, chat dengan host, sampai mengatur berbagai fasilitas kamar bisa kamu lakukan melalui aplikasi Bobobox. Tertarik mencoba? Unduh aplikasi Bobobox dulu yuk di Play Store atau App Store!




