3 Museum dekat Bobobox Tanah Abang untuk Wisata Edukasi

14 Aug 2026

3 Museum dekat Bobobox Tanah Abang untuk Wisata Edukasi

Penulis

Bobobox

Museum dekat Bobobox Tanah Abang bisa menjadi pilihan destinasi menarik untuk mengisi waktu luang saat kamu berada di Jakarta. Di tengah hiruk-pikuk kawasan Tanah Abang, Bobopod Tanah Abang bisa menjadi akomodasi andalan, baik saat berlibur maupun dalam rangka perjalanan bisnis. 

 

Seperti yang kamu tahu, Tanah Abang terkenal sebagai kawasan yang sibuk dan ramai terutama karena keberadaan Pasar Tanah Abang, pusat grosir tekstil terbesar di Asia Tenggara.

 

Namun, di tengah keramaian itu, rupanya terselip tiga museum yang menyimpan informasi serta koleksi bersejarah peninggalan masa lampau. Ketiga museum ini menawarkan pengalaman yang berbeda, mulai dari mengenal kekayaan wastra Indonesia hingga melihat peninggalan sejarah kolonial dan berbagai koleksi budaya Nusantara. Apa saja museum dekat Bobobox Tanah Abang tersebut? Yuk, simak lebih lanjut di bawah ini!

 

3 Museum dekat Bobobox Tanah Abang yang Seru dan Edukatif

 

Museum Tekstil

 

Museum of Textile-Museum Tekstil
Photo via dinaskebudayaan.jakarta.go.id

 

  • HTM: Rp5.000 (dewasa), Rp3.000 (mahasiswa) dan Rp2.000 (anak-anak/pelajar)
  • Jam operasional: 09.00-16.00 (Selasa-Minggu dan hari libur nasional, Senin tutup)
  • Alamat: Jl. K.S. Tubun No.2-4, Kota Bambu Selatan, Kecamatan Palmerah, Kota Jakarta Barat, DKI Jakarta

 

Museum Tekstil Jakarta merupakan objek wisata dekat Bobobox Tanah Abang yang mulanya merupakan rumah pribadi milik seorang warga negara Perancis di abad ke-19. Abdul Azis Almussawi Al Katiri, konsul Turki, kemudian membeli rumah tersebut lalu menjualnya kembali di tahun 1942 kepada Dr. Karel Christian Cruq.

 

Selanjutnya, bangunan itu:

 

  • Beralihfungsi menjadi markas Barisan Keamanan Rakyat (BKR) di awal tahun 1945
  • Menjadi kediaman Lie Sion Pin 1947 yang kemudian menyewakannya kepada Departemen Sosial untuk penampungan bagi orang-orang jompo
  • Dibeli oleh Departemen Sosial pada 1952
  • Menjadi bangunan bersejarah pada tahun 1972
  • Diserahkan oleh Departemen Sosial kepada Pemda DKI Jakarta pada 1975

 

Pada 1975, Ir. Safioen, salah satu pendiri Kelompok Pecinta Kain Tradisional Indonesia WASTRAPREMA, mengajukan gagasan untuk mendirikan Museum Tekstil. Gagasan tersebut memperoleh dukungan dari Gubernur Jakarta, Ali Sadikin hingga akhirnya gedung tersebut diresmikan sebagai Museum Tekstil pada 28 Juni 1976 oleh Ibu Tien Soeharto.

 

Seiring bertambahnya koleksi, Museum Tekstil kini mencatat sekitar 3.000 koleksi. Jumlah tersebut mencakup berbagai koleksi tekstil yang menjadi bagian penting dari upaya pelestarian wastra Indonesia.

 

Ada Apa Saja di Museum Tekstil?

 

Dengan luas mencapai 16.000 m², Museum Tekstil terdiri dari beberapa bagian, yaitu:

 

  • Gedung Pameran Utama
  • Galeri Batik
  • Pendopo Batik
  • Taman Pewarna Alam
  • Perpustakaan
  • Ruang Perawatan Kain
  • Ruang Pengenalan Wastra

 

Museum yang berlokasi sekitar dua kilometer dari Bobobox Tanah Abang ini mengkhususkan diri untuk mengumpulkan, mengawetkan dan memamerkan karya seni terkait pertekstilan Nusantara. Karena itu, kamu bisa melihat berbagai koleksi tekstil Indonesia yang kini tercatat mencapai 3.000 yang terdiri dari kain tenun, kain batik, peralatan pembuatan kain dan koleksi campuran.

 

Koleksi kain yang dipamerkan meliputi batik kuno dan kontemporer. Di antaranya adalah bendera Keraton Cirebon, kain batik motif sederhana hingga rumit seperti batik Yogyakarta, Solo, Pekalongan, Cirebon, Palembang, Madura dan Riau. Tak hanya mengagumi berbagai koleksinya, kamu juga bisa ikut belajar membatik lalu membawa hasil karya kamu pulang, tentunya dengan biaya tambahan.

 

Selain koleksi batik, Museum Tekstil juga memiliki Galeri Batik yang hadir sejak 2010. Galeri tersebut menyajikan koleksi batik dari berbagai daerah di Indonesia. Dengan begitu, kunjungan ke museum ini tidak hanya mengajakmu melihat kain tradisional, tetapi juga mengenal perkembangan batik sebagai bagian dari kekayaan budaya Indonesia.

 

Di area Kebun Pewarna Alam, kamu bisa menambah wawasan tentang tanaman penghasil warna alami untuk digunakan sebagai pewarna kain tradisional. Selain itu, ada juga perpustakaan yang menyimpan koleksi buku-buku tekstil. 

 

Sementara itu, di Ruang Pengenalan Wastra, kamu bisa menyaksikan koleksi alat tenun dari berbagai daerah dan berkesempatan mencoba mengoperasikan alat tersebut.

 

Museum Tekstil juga menyediakan fasilitas seperti ruang pamer utama, Galeri Batik, Pendopo Batik, Taman Pewarnaan Alam, Taman Serat, perpustakaan, kantin, toko suvenir, musala, dan area parkir. Museum juga menyediakan pemandu tur yang dapat membantu pengunjung memahami koleksi dengan lebih mendalam.

 

Jika sudah lelah berkeliling, kamu bisa mampir untuk menikmati kopi di kafe yang tersedia. Selain itu, ada juga toko oleh-oleh yang menawarkan berbagai macam suvenir yang bisa kamu bawa sebagai bukti sudah berkunjung ke Museum Tekstil Jakarta.

 

Kalau ingin menggunakan transportasi umum, kamu juga bisa menuju Museum Tekstil dari Stasiun Tanah Abang. Kamu hanya perlu berjalan kaki sekitar 550 meter dari stasiun. Kamu juga bisa menggunakan mikrolet M08, M09, atau M11 serta TransJakarta melalui Halte Slipi Petamburan.

 

Museum Taman Prasasti

 

Museum Taman Parasti
Photo via mitramuseumjakarta.id

 

  • HTM: Rp5.000 (dewasa), Rp3.000 (mahasiswa) dan Rp2.000 (anak-anak/pelajar)
  • Jam operasional: 09.00-15.00 (Selasa-Minggu)
  • Alamat: Jl. Tanah Abang I, Petojo Selatan, Kecamatan Gambir, Kota Jakarta Pusat, DKI Jakarta

 

Museum dekat Bobobox Tanah Abang selanjutnya adalah Museum Taman Prasasti yang mulanya merupakan sebuah kompleks pemakaman Kebon Jahe Kober. Pemakaman ini mulai berfungsi sejak tahun 1795 sebagai pengganti pemakaman di samping Gereja Nieuw Hollandsche Kerk (sekarang Museum Wayang) yang sudah cukup padat.

 

Maka dari itu, pemerintah Belanda menyediakan lahan pemakaman baru. Sebagian besar nisan dari Nieuw Hollandse Kerk juga ikut dipindahkan dan kemudian ditandai dengan tulisan HK untuk Hollandsche Kerk.

 

Pada 1975, pemerintah menutup Kebon Jahe Kober karena alasan sudah penuh. Lalu, pada 9 Juli 1977, Ali Sadikin meresmikan kawasan tersebut menjadi Museum Taman Prasasti. Karena perkembangan kota yang semakin pesat, kompleks pemakaman pun menyusut dari 5,5 menjadi 1,3 hektar saja. 

 

Tanah bekas makam kemudian menjadi lahan tempat berdirinya Kantor Wali Kota Jakarta Pusat, Auditorium, Kantor Perpustakaan Umum dan Arsip Jakarta, dan KONI Pusat.

 

Ada Apa Saja di Taman Prasasti?

 

Museum Taman Prasasti menyimpan koleksi prasasti nisan kuno masa kolonial Belanda. Sebagai informasi, tempat tersebut tidak lagi menyimpan jenazah sebab semuanya telah dipindahkan antara tahun 1950-1970 ke tempat lain.

 

Sekarang ini, museum hanya memajang sekitar 862 batu nisan yang terbuat dari marmer, batu alam dan perunggu. Nisan tersebut memiliki beragam bentuk, mulai dari batu nisan sederhana hingga patung malaikat. Selain itu, ada juga miniatur makam khas dari berbagai provinsi di Indonesia dan kereta jenazah antik.

 

Untuk memudahkan dalam mencari objek yang ingin kamu lihat, terdapat sebuah papan informasi yang mencantumkan informasi tentang nisan dan prasasti tokoh penting. Papan informasi tersebut juga berisi denah museum yang terbagi ke dalam Area J, I, G dan H.

 

Di area J, kamu bisa melihat:

 

  • Makam pualam dengan hiasan buku milik Dr. H. F. Roll, pendiri sekolah dokter STOVIA
  • Dua peti jenazah yang tersimpan di dalam kotak mika transparan, dulunya digunakan untuk membawa jenazah Ir. Soekarno dan Drs. Mohammad Hatta

 

Selanjutnya, area I konon menyimpan jenazah Kapiten Jas yang jasadnya tidak bisa dipindahkan karena keberadaan pohon besar di atasnya. Makam tersebut pun diyakini dapat memberi kesuburan, keselamatan dan kemakmuran bagi peziarahnya.

 

Di area G, terdapat:

 

  • Replika tembok peringatan Pieter Erberveld, seorang keturunan Belanda-Siam yang berencana melakukan makar pada pemerintah Hindia Belanda
  • Patung Herikus van der Grinten, pastur ternama di masanya

 

Sementara itu, area H menyimpan:

 

  • Nisan milik Marius J. Hulswit, seorang arsitek Belanda
  • Beberapa patung bidadari
  • Nisan dengan fondasi berbentuk segi delapan milik Olivia Mariamne Raffles, istri dari Thomas Stamford Raffles
  • Nisan Wanita Jawa bernama Marisa serta nisan Elisabeth Adriane Roseboom, istri pemilik sekolah Santa Maria

 

Meski nama-nama Belanda mendominasi, di tempat ini juga terdapat nisan bagi aktivis sekaligus penyair muda Indonesia, Soe Hok Gie.

 

Karena museum berada di kawasan terbuka, kamu bisa menikmati koleksi sambil menyusuri area taman. Namun, sebaiknya pilih waktu kunjungan pada pagi atau menjelang siang agar kamu lebih nyaman berkeliling. Museum Taman Prasasti juga menyediakan toilet, musala, auditorium, dan area parkir, meskipun kapasitas parkir di halaman museum terbatas.

 

Kalau menggunakan transportasi umum, kamu dapat menuju museum dari Halte Harmoni atau Monas. Dari Stasiun Tanah Abang, pengelola juga mencantumkan opsi melanjutkan perjalanan menggunakan Mikrolet 08.

 

Museum Nasional Indonesia

 

museum nasional, liburan murah
Photo: museumnasional.or.id

 

  • HTM terbaru: Rp30.000 untuk pelajar PAUD/TK/SD/SMP/SMA dan Rp50.000 untuk dewasa WNI. Anak usia 0-3 tahun dapat masuk gratis. Sementara itu, wisatawan asing dikenakan Rp150.000. Pengunjung juga dapat membeli tiket imersifA seharga Rp35.000, tetapi tiket tersebut hanya berlaku setelah membeli tiket masuk museum.
  • Jam operasional: Selasa-Kamis pukul 08.00-18.00 WIB dan Jumat-Minggu pukul 08.00-20.00 WIB. Museum tutup setiap Senin dan hari libur nasional.
  • Alamat: Jl. Medan Merdeka Barat No.12, Gambir, Kecamatan Gambir, Kota Jakarta Pusat, DKI Jakarta

 

Wisata selanjutnya yang berdekatan dengan Bobobox Tanah Abang adalah Museum Nasional Indonesia atau Museum Gajah. Penyebutan gajah tersebut berkaitan dengan keberadaan patung berbentuk gajah di halaman depan gedung yang merupakan hadiah dari Raja Chulalongkorn dari Thailand pada tahun 1871.

 

Museum Nasional bermula dari berdirinya himpunan bernama Bataviaasch Genootschap van Kunsten en Wetenschappen pada 24 April 1778. Tujuannya adalah untuk memajukan penelitian di bidang seni dan ilmu pengetahuan (biologi, fisika, kesusastraan, sejarah dan etnologi). C. M. Radermacher, salah satu pendiri himpunan, kemudian menyumbangkan buku, benda bersejarah hingga rumahnya yang kemudian menjadi cikal bakal berdirinya museum dan perpustakaan.

 

Sejak tahun 1862, pemerintah Hindia Belanda mulai membangun museum di tempat baru untuk menyimpan koleksi benda-benda bersejarah hingga akhirnya resmi dibuka pada 1868. Kepengurusannya kemudian beralih kepada pemerintah Indonesia sejak 17 September 1962. Namanya pun resmi berubah menjadi Museum Nasional Indonesia pada 28 Mei 1979.

 

Dalam perkembangannya, Museum Nasional sempat mengalami perubahan besar setelah kebakaran yang terjadi pada 2023. Kebakaran tersebut berdampak pada sejumlah ruang pamer sehingga pengelola melakukan proses pemulihan dan renovasi. 

 

Hingga 2026, pengelola masih melanjutkan penataan kembali enam ruang pamer yang terdampak. Karena itu, beberapa bagian museum mungkin memiliki kondisi dan akses yang berbeda dibandingkan sebelum kebakaran.

 

Koleksi Museum Nasional

 

Berjarak sekitar 1,3 km dari Bobobox Tanah Abang, Museum Nasional menyimpan berbagai benda kuno dari seluruh penjuru Indonesia serta beberapa negara Asia, mulai dari zaman prasejarah hingga masa yang lebih modern. Dengan total koleksi mencapai sekitar 140.000 benda, Museum Nasional memiliki salah satu koleksi sejarah dan budaya terlengkap di Indonesia.

 

Koleksi tersebut tidak hanya menunjukkan perjalanan sejarah Indonesia, tetapi juga menggambarkan keberagaman budaya yang berkembang di berbagai wilayah Nusantara. Pengelola Museum Nasional mengelompokkan koleksinya ke dalam tujuh kategori, yaitu arkeologi, etnografi, geografi, keramik, numismatik dan heraldik, prasejarah, serta sejarah.

 

Di tempat ini, kamu bisa melihat beragam benda kuno yang terbagi ke dalam jenis:

 

  • Prasejarah
  • Arkeologi
  • Sejarah
  • Etnografi
  • Numismatik dan heraldik
  • Geografi
  • Keramik

 

Sementara itu, dari segi bahan, terdapat kategori batu, logam, tanah liat, campuran, kayu, tengkorak, fosil, bambu, kain dan tulang. Secara garis besar, kamu bisa melihat koleksi berupa patung, arca, keramik, perhiasan, topeng, lumping dan masih banyak lagi.

 

Menariknya, kondisi Museum Nasional yang terus berbenah tidak mengurangi perannya sebagai tempat untuk mengenal sejarah dan budaya Indonesia. Pengelola juga terus menghadirkan program dan pengalaman kunjungan yang membantu pengunjung memahami koleksi dari sudut pandang yang lebih interaktif. 

 

Jadi, meskipun beberapa ruang masih menjalani proses pemulihan, kamu tetap bisa menikmati berbagai koleksi dan aktivitas yang tersedia di area museum yang dapat diakses.

 

Selain memamerkan koleksi bersejarah, Museum Nasional juga menawarkan beragam aktivitas menarik. Di antaranya adalah:

 

  • Belajar membatik, tari tradisional, dan bermain gamelan
  • Menonton pertunjukan teater
  • English tour
  • Museum keliling
  • Aktivitas di kid corner untuk anak-anak TK dan PAUD

 

Museum Nasional juga menghadirkan program yang memungkinkan kamu menikmati suasana museum pada sore hingga malam hari. Salah satunya adalah ARAMSA atau Akses Rabu Malam untuk Semua. Melalui program ini, kamu bisa mengunjungi museum secara gratis pada Rabu minggu kedua setiap bulan, mulai pukul 16.00 hingga 20.00 WIB. Untuk mengikuti program tersebut, kamu cukup melakukan pendaftaran di lokasi melalui kode QR yang tersedia.

 

Namun, tiket gratis ARAMSA hanya berlaku untuk kunjungan reguler dan tidak mencakup beberapa layanan tambahan, seperti imersifA, Mengenal Paras Nusantara, dan Ruang Anak. Jadi, kalau kamu tertarik mencoba pengalaman tersebut, pastikan kamu mengecek ketentuan tiketnya sebelum berkunjung.

 

Selain mengikuti berbagai aktivitas, kamu juga bisa mengikuti layanan pemanduan yang tersedia dalam bahasa Indonesia maupun bahasa Inggris pada jadwal tertentu. Layanan ini dapat membantu kamu memahami cerita di balik koleksi yang dipamerkan, terutama jika kamu ingin mendapatkan pengalaman berkunjung yang lebih mendalam. 

 

Karena jadwal pemanduan dapat berbeda, sebaiknya cek informasi terbaru sebelum datang dan sesuaikan dengan waktu kunjunganmu.

 

Baca Juga:

 

 

Bobopod Tanah Abang: Persinggahan Nyaman di Tengah Keramaian

 

Kamar tidur Bobopod Airport CBC - hotel kapsul di indonesia
Photo: Bobobox Internal Asset

 

Berdiri di salah satu area bisnis tersibuk di Jakarta Pusat, Bobopod Tanah Abang hadir sebagai tempat singgah dari segala kemacetan, keramaian dan rasa lelah di jalanan Kota Jakarta. Di sini kamu bakal dimanjakan oleh akomodasi berkonsep minimalis, nyaman, dan bersih serta berbagai fasilitas penunjang yang pasti bikin kamu betah.

 

Lokasinya yang strategis memudahkan kamu untuk dengan mudah mengakses sejumlah tempat ikonik dari Bobobox Tanah Abang. Sebut saja Stasiun Tanah Abang, Pasar Tanah Abang, Stasiun Gambir dan Monas.

 

Selain itu, kamu bisa menjadikan Bobopod Tanah Abang sebagai titik beristirahat setelah seharian menjelajahi museum di sekitar Jakarta Pusat. Dengan begitu, kamu tidak perlu mengakhiri perjalanan terlalu jauh dari kawasan yang sudah menjadi bagian dari itinerary-mu.

 

Kalau kamu berencana menginap, Bobobox juga menyediakan promo Early Booking hingga 20% untuk pemesanan minimal 21 hari sebelum tanggal menginap. Promo BOOKEARLY berlaku untuk Bobopod, Bobocabin, dan CRiB pada periode pemesanan 19 Mei-31 Agustus 2026, dengan sejumlah syarat dan pengecualian pada tanggal tertentu.

 

Namun, karena promo dapat berubah mengikuti periode dan ketentuan yang berlaku, sebaiknya cek kembali halaman promo Bobobox sebelum melakukan pemesanan.

 

Yuk, segera pesan pod yang kamu mau dan jangan lupa download aplikasi Bobobox sekarang juga!

 

Header image by: museumnasional.or.id