Dibandingkan dengan generasi baby boomers, kesehatan karyawan milenial dan generasi Z cenderung lebih rapuh, terutama kesehatan mental.
Pada dasarnya, dunia kerja terus berubah, begitu juga dengan cara setiap generasi memandang pekerjaan. Bagi generasi milenial dan Z, kesehatan pekerja, khususnya kesehatan mental, menjadi salah satu hal yang makin krusial untuk diperhatikan.
Beban kerja yang berlebihan, hubungan yang kurang baik di tempat kerja, hingga sulitnya memisahkan urusan pekerjaan dan kehidupan pribadi bisa memengaruhi kondisi fisik maupun mental. Jika dibiarkan, tekanan tersebut bisa berkembang menjadi stres berkepanjangan atau burnout.
Hal ini menunjukkan bahwa berbeda generasi, berbeda pula tantangan pekerjaan yang dihadapi. Kesehatan karyawan, terutama kesehatan mental, sudah menjadi hal yang serius dan perlu diperhatikan.
Menjaga kesehatan di tempat kerja bukan hanya tanggung jawab masing-masing karyawan. Justru perusahaanlah yang memiliki peran utama dalam menciptakan lingkungan kerja yang sehat bagi karyawan.
Lantas, apa saja hal yang bisa memengaruhi kesehatan para pekerja?
Penyebab Masalah Kesehatan Karyawan di Tempat Kerja
Kesehatan pegawai, di dalamnya termasuk kesehatan mental, yang kurang baik di tempat kerja bisa disebabkan oleh banyak hal. Berikut beberapa yang bisa kamu identifikasi.
A. Stres di Tempat Kerja
Menurut WHO, ada lima hal yang bisa mengganggu kesehatan karyawan di tempat kerja. Berikut adalah penjelasannya.
1. Peraturan tentang kesehatan yang tidak jelas
Tidak seperti peraturan mengenai gaji, cuti, dan yang lainnya, peraturan tentang kesehatan karyawan masih belum dideskripsikan dengan jelas.
Akibat peraturan yang tidak jelas, jika terjadi sesuatu terhadap kesehatan pekerja, tidak ada aturan tertulis yang bisa dijadikan acuan sebagai langkah awal menangani masalah kesehatan.
2. Komunikasi dan manajemen yang buruk
Komunikasi yang buruk dapat menyebabkan kesehatan karyawan terganggu. Contohnya, jika perintah atasan tidak disampaikan dengan cara yang baik, peluang kamu terbebani atas perintah itu cukup besar. Di sisi lain, komunikasi antar karyawan yang kurang baik juga sangat mempengaruhi seperti adanya bullying.
Hubungan yang buruk dengan atasan atau rekan kerja, kurangnya dukungan dari manajemen, perundungan, dan lingkungan kerja yang tidak aman memang bisa menjadi sumber stres kerja. Oleh sebab itu, penting sekali untuk menjaga komunikasi yang terbuka dan hubungan kerja yang sehat.
3. Rendahnya dukungan
Apresiasi terhadap pekerjaan yang kurang dapat mengganggu kesehatan karyawan. Terlebih, jika kesalahan yang kamu buat berujung omelan dari atasan dan tidak diikuti dengan dukungan moral yang baik, kepercayaan diri kamu bisa menurun.
Karyawan yang merasa kurang dihargai dan kurang mendapatkan dukungan akan lebih mudah mengalami tekanan di tempat kerja.
Dukungan sendiri tidak selalu harus berupa penghargaan besar. Komunikasi yang baik, apresiasi kecil, dan kesempatan untuk menyampaikan kendala selama bekerja juga bisa termasuk dukungan yang pada akhirnya bisa membuat lingkungan kerja menjadi lebih sehat.
4. Jam kerja yang tidak fleksibel
Kesehatan karyawan bisa terganggu akibat jam kerja yang kaku. Cara kerja dan tingkat produktivitas setiap orang berbeda-beda. Jam kerja yang kaku dipaksakan, terlebih jika memberlakukan lembur tanpa persetujuan, akan berdampak pada kesehatan karyawan dan mental yang tidak baik.
Beban kerja dan waktu kerja yang tidak seimbang juga dapat memicu stres. Oleh sebab itu, penting untuk menggunakan waktu kerja dengan baik dan tetap memberi tubuh kesempatan untuk beristirahat. Setelah jam kerja selesai, sebisa mungkin beri batas antara pekerjaan dan waktu pribadi.
5. Memiliki tugas atau tujuan organisasi yang tidak jelas
Pekerjaan yang diberikan haruslah sesuai dengan apa yang dijanjikan. Kesehatan karyawan bisa terganggu jika mereka dibebankan pekerjaan yang bukan kewajibannya.
Ketidakjelasan tanggung jawab juga bisa membuat pekerjaan terasa lebih berat. Ketika seseorang tidak memahami prioritas atau bahkan ekspektasi pekerjaannya, tekanan dan kecemasan bisa meningkat.
Bagi generasi sebelum milenial, mungkin kelima hal tersebut bukanlah hal yang begitu diperhatikan. Akan tetapi, karena kesadaran akan kesehatan karyawan yang lebih terbuka di generasi milenial, hal-hal tersebut menjadi semakin terlihat pengaruhnya.
Oleh karena itu, tidak heran banyak generasi milenial yang resign karena merasa perusahaan tempat mereka bekerja tidak memperhatikan kesehatan karyawan dengan baik.
Baca juga: Kenali Apa Itu Burnout Dan Tips Untuk Mencegahnya
B. Kondisi Keuangan yang Tidak Stabil
Dibandingkan dengan generasi sebelumnya, milenial dan Gen Z cukup tertinggal dalam masalah finansial. Dengan gaji yang stagnan dan sulit untuk berkembang, milenial kesulitan untuk memiliki kendaraan dan tempat tinggal sendiri, yang juga disebabkan oleh harga jual dan sewa yang terus melambung.
Kondisi finansial karyawan juga bisa menjadi salah satu sumber tekanan di luar pekerjaan. Ketika kebutuhan hidup, tuntutan pekerjaan, dan waktu istirahat tidak seimbang, beban yang para pekerja rasakan bisa semakin berat.
Oleh sebab itu, kesehatan mental di tempat kerja sebaiknya tidak hanya dilihat dari beban pekerjaan, tetapi juga dari keseimbangan kehidupan (work-life balance) secara keseluruhan.
C. Merasa Selalu Sendirian
Generasi milenial, khususnya, tidak selalu memiliki teman untuk berbagi beban mental mereka. Mereka sedikit sekali mendapatkan dukungan sosial dibandingkan dengan generasi lain. Hal ini bisa disebabkan oleh mereka yang lebih lambat menikah dan tidak memiliki komunitas.
Menurut survei yang dilakukan YouGov, 30% milenial merasa selalu sendirian jika dibandingkan dengan generasi X (20%) dan baby boomers (15%). Salah satu penyebabnya adalah kurangnya teman dan sahabat, kolega, hingga anggota keluarga yang bisa diajak bicara.
Terlepas dari generasi apa pun itu, memiliki orang yang bisa dipercaya untuk berbagi cerita tetap penting. Dukungan dari keluarga, teman, pasangan, atau rekan kerja bisa membantu seseorang menghadapi tekanan dengan lebih baik.
Namun, apabila stres sudah mencapai tahap mengganggu aktivitas sehari-hari, ada baiknya untuk segera mencari bantuan profesional.
Baca juga: 5 Bahaya Sifat Tidak Enakan Bagi Kesehatan Mental dan Cara Mengatasinya!
Cara Menjaga Kesehatan Mental Karyawan di Tempat Kerja
Untuk menjaga kesehatan mental karyawan, ada banyak hal yang bisa kamu lakukan. Namun setidaknya, kamu bisa melakukan dua hal ini.
1. Menciptakan lingkungan kerja yang sehat
Untuk menciptakan lingkungan kerja yang sehat dibutuhkan kerja sama antara karyawan dan juga perusahaan. Akan tetapi, bukan berarti kamu tidak bisa memulainya dari diri sendiri.
Usahakan untuk tidak membawa pekerjaan pulang ke rumah. Saat kamu pulang, sudah saatnya kamu beristirahat atau memikirkan proyek-proyek lain yang sedang kamu bangun.
Usahakan pula untuk tidak lembur. Kamu memiliki hak untuk menolak jika memang tidak ada perjanjian yang mengharuskan kamu untuk lembur.
Selain membatasi pekerjaan di luar jam kerja, kamu juga bisa mulai dengan mengenali hal-hal yang membuatmu stres. Atur prioritas, gunakan waktu kerja sebaik mungkin, dan jangan melewatkan waktu istirahat. Cara sederhana ini dapat membantu menjaga batas antara pekerjaan dan kehidupan pribadi.
Namun, menjaga kesehatan mental bukan berarti seluruh tanggung jawab berada di tangan karyawan. Perusahaan juga perlu menciptakan budaya kerja yang terbuka, memberikan dukungan, dan memastikan beban serta tanggung jawab kerja tetap jelas.
2. Beranikan diri untuk bercerita
Jangan pendam semua masalah kamu sendiri. Menceritakan masalah kamu dengan orang lain sangat membantu mengurangi beban mental yang kamu rasakan. Kamu bisa melakukannya dengan berbicara dengan orang tua atau sahabat yang kamu percaya.
Namun jika kamu rasa hal itu masih terlalu sulit, kamu bisa melakukan konsultasi ke psikolog. Generasi millennial tidak menganggap terapi sebagai sesuatu yang tabu. Faktanya, menurut The Wall Street Journal, millennial juga disebut generasi terapi.
Kamu bisa mencari terapi dengan datang ke psikiater untuk berkonsultasi. Akan tetapi, jika kamu merasa datang ke psikiater perlu mengeluarkan biaya yang cukup banyak, kamu bisa mencoba berkonsultasi via online terlebih dahulu.
Apabila tekanan mental yang kamu rasakan mulai mengganggu aktivitas sehari-hari, jangan pernah ragu untuk segera mencari bantuan profesional. Psikolog atau konselor bisa membantu kamu memahami kondisi yang sedang kamu alami dan menentukan langkah penanganan yang sesuai.
Baca juga: Penat Kerja? Ini Tips Liburan untuk Menghilangkan Stres
Menjaga Kesehatan Mental Karyawan dengan Mencari Suasana Baru

Selain mengatur beban kerja dan menjaga komunikasi, mengambil waktu untuk rehat dari pekerjaan juga penting. Sesekali, kamu bisa mencari suasana baru untuk keluar dari rutinitas. Tujuannya untuk memberi ruang bagi tubuh dan pikiran untuk beristirahat.
Suasana baru sangat berpengaruh terhadap kesehatan karyawan. Hal ini bisa dilakukan salah satunya dengan cara tempat istirahat alternatif, seperti di Bobopod by Bobobox.
Bobopod merupakan hotel kapsul berkonsep modern yang mengutamakan kenyamanan pengunjungnya. Teknologi kekinian yang memudahkan seperti kunci kamar QR code dan pemesanan pod melalui aplikasi adalah contohnya.
Selain itu, kamu tidak perlu khawatir tidak nyaman saat menginap di Bobopod. Kasurnya yang empuk dan nyaman dijamin bikin tidur kamu lelap tanpa gangguan.
Ingat, mengambil jeda dari rutinitas bukan berarti mengabaikan pekerjaan. Justru, waktu istirahat yang cukup bisa membantu menjaga energi agar kamu dapat kembali menjalani aktivitas dengan lebih baik.
Jadi, kalau kamu sedang membutuhkan waktu untuk berhenti sejenak dari kesibukan sehari-hari, menginap di Bobopod bisa menjadi salah satu pilihan. Kamu bisa memilih lokasi akomodasi sesuai dengan kebutuhanmu.
Bagaimana, siap untuk rehat dari kesibukan kantor? Download aplikasi Bobobox dan temukan lokasi Bobopod yang sesuai dengan kebutuhanmu.




