Daerah Ciwidey menyimpan banyak pesona alam yang menunggu untuk dieksplor. Salah satunya adalah Gunung Mayit atau yang oleh para turis lebih dikenal dengan nama Gunung Patuha.
Meski namanya terdengar menyeramkan, sebenarnya pemandangan di Gunung Mayit justru sangat menenangkan hati! Memang, apa saja yang bisa kamu temukan di sana? Ini dia panduan lengkapnya!
Sekilas tentang Gunung Mayit Ciwidey

Gunung Mayit Ciwidey sebenarnya merupakan bagian dari kompleks Gunung Patuha yang legendaris di Kabupaten Bandung, Jawa Barat.
Gunung ini berdiri gagah dengan ketinggian sekitar 2.434 meter di atas permukaan laut (mdpl). Secara geografis, Gunung Patuha adalah gunung berapi tipe strato yang sudah nggak aktif lagi. Tapi, sisa-sisa aktivitas vulkaniknya meninggalkan banyak kawah.
Lalu, kenapa sih, namanya harus Gunung Mayit? Menurut cerita warga sekitar, bentuk punggungan Gunung Patuha dari kejauhan mirip orang yang lagi terbujur kaku. Terus, ada versi
lain yang menyebutkan bahwa di masa lalu, area ini dianggap sakral dan tenang layaknya tempat peristirahatan.
Namun tenang saja, kesan mistis itu langsung sirna saat kamu menghirup udara segar dan melihat pepohonan hijau yang rimbun di sepanjang jalur pendakian tempat wisata Ciwidey tersebut.
Jalur Gunung Mayit yang Bisa Ditempuh
1. Jalur Cipanganten
Jalur Cipaganten adalah favorit bagi para pendaki yang ingin merasakan suasana hutan yang lebih autentik. Medannya cukup bervariasi, mulai dari jalan setapak tanah yang landai hingga beberapa tanjakan yang lumayan menguras keringat.
Karena vegetasinya masih cukup rapat, kamu akan sering bertemu dengan pepohonan besar yang rindang. Jalur ini cocok banget buat kamu yang sudah punya pengalaman mendaki sedikit, atau pemula yang fisiknya sedang dalam kondisi prima.
2. Jalur Gunung Sepuh via Cibuni
Kalau kamu mulai dari arah perkebunan teh Cibuni, jalur ini menawarkan pemandangan yang sangat ikonik. Kamu bakal melewati kebun teh terlebih dahulu sebelum masuk ke kawasan hutan.
Medannya relatif menanjak stabil, tapi nggak terlalu terjal. Kelebihannya, udara di jalur ini terasa sangat bersih karena jauh dari keramaian.

3. Jalur via Kawah Putih
Nah, ini dia opsi yang paling accessible buat semua orang, termasuk pemula atau kamu yang cuma pengen foto-foto cantik. Jalur ini sudah tertata rapi karena terintegrasi dengan kawasan wisata Kawah Putih.
Kamu hanya perlu berjalan kaki mengikuti jalur yang sudah disediakan menuju titik-titik pandang di bagian atas. Tanpa perlu persiapan fisik yang berat, kamu sudah bisa sampai ke spot-spot kece di Gunung Mayit tanpa perlu mandi keringat.
Daya Tarik Gunung Mayit
1. Pemandangan Indah dari Sunan Ibu

Banyak orang rela datang jauh-jauh ke Gunung Mayit Ciwidey buat mampir ke Sunan Ibu dan menyaksikan pemandangannya yang cantik, lho!
Dari sunrise point Sunan Ibu, kamu bisa melihat seluruh hamparan kawah dari ketinggian, lengkap sama matahari terbit yang perlahan muncul di balik gunung. Terus, di bawahmu ada kawah putih kehijauan yang diselimuti kabut tipis. Gimana, jadi pengen foto-foto, kan?
2. Kawah Putih yang Berubah Warna

Salah satu keunikan Gunung Mayit Ciwidey adalah kawahnya yang warna airnya bisa berubah-ubah. Kadang terlihat putih susu, kadang hijau toska, bahkan terkadang biru muda.
Kenapa bisa begitu? Ini terjadi karena kandungan belerang, suhu air, dan cuaca yang memengaruhi reaksi kimia di dalamnya. Inilah yang bikin Kawah Putih selalu terlihat baru setiap kali kamu datang.
3. Hutan Cantigi yang Rimbun
Di sepanjang perjalanan menuju puncak, kamu akan dikelilingi oleh pohon Cantigi. Pohon-pohon ini unik karena ukurannya yang pendek, batangnya yang berliku, dan daunnya yang berwarna merah kecokelatan saat masih muda.
Berjalan di tengah hutan cantigi terasa seperti sedang masuk ke dalam dunia dongeng atau film fantasi. Nggak percaya? Coba rasain sendiri saat mampir, deh!
4. Latar Foto Cantik di Skywalk Cantigi
Pengelola kawasan wisata Gunung Mayit dan hutan Cantigi sudah membangun jembatan bambu yang disebut Skywalk Cantigi.
Dengan adanya spot tersebut, kamu bisa berjalan di atas rimbunnya pohon cantigi sambil menikmati pemandangan kawah dari sudut yang berbeda. Psst, kamu bisa manfaatkan tempat ini buat ambil foto estetik, lho!
HTM dan Jam Buka Gunung Mayit
Untuk menikmati keajaiban alam di Gunung Mayit Ciwidey, kamu nggak perlu merogoh kocek terlalu dalam, kok.
Harga tiket masuk ke kawasan ini berkisar antara Rp28.000 hingga Rp31.000 per orang untuk wisatawan domestik. Secara teknis, Gunung Patuha buka 24 jam, tapi biasanya paling ramai mulai pukul 07.00 sampai 17.00 WIB.
Waktu terbaik buat berkunjung? Tentu saja pagi-pagi sekali! Kalau kamu sampai di sana sekitar jam 05.30 pagi, kamu punya kesempatan besar untuk mendapatkan momen golden hour di Sunan Ibu.
Terus, musim kemarau adalah waktu paling ideal karena jalurnya nggak licin dan langit cenderung bersih tanpa awan mendung.
Rekomendasi Penginapan Terdekat Gunung Mayit Ciwidey

Cari penginapan di sekitar Gunung Mayit? Kamu dapat mempertimbangkan Bobocabin Signature Kawah Ciwidey, Bandung yang berjarak sekitar 1 jam perjalanan ke sana! Nggak cuma strategis, fasilitasnya juga nyaman abis.
Cabin di Bobocabin Signature Kawah Ciwidey hadir dengan konsep modern yang tampil beda, lengkap dengan Smart Window yang langsung mengarah ke pemandangan pegunungan.
Mau menikmati view-nya? Tinggal tap sekali di layar sentuh B-Pad, dan voila! Kacanya bakal langsung berubah jadi transparan. Kalau ingin suasana lebih privat, kamu bisa mengaturnya kembali dengan mudah.
Nggak cuma Cabin-nya saja yang nyaman, fasilitas umum di Bobocabin Signature Kawah Ciwidey juga super lengkap. Kamu bisa meminjam berbagai perlengkapan seperti papan congklak, kartu Uno, menara Uno Stacko, alat melukis, kembang api mini, perlengkapan BBQ, bean bag, hammock, dan masih banyak lagi melalui Host.
Kabar baiknya, glamping dekat Gunung Mayit di Ciwidey bareng Bobocabin Bandung nggak harus mahal. Ada cara booking Cabin dengan harga lebih ramah di kantong. Tinggal download aplikasi Bobobox di smartphone kamu, dan nikmati harga terbaik plus berbagai promo eksklusif saat melakukan pemesanan!
Featured Photo: Ashim D’Silva via Unsplash




