Arsitektur dan identitas sebuah negara adalah dua hal yang mungkin tidak bisa dipisahkan. Seiring dengan berkembangnya sebuah negara, bangunannya pun mengikuti perubahan tersebut, seperti gaya arsitektur jengki.
Masyarakat mengenal gaya arsitektur Jengki sebagai desain bangunan khas Indonesia yang unik, bahkan nyeleneh. Gaya ini menampilkan atap asimetris, pintu dan jendela berlubang, fasad berwarna-warni, dan banyak elemen unik lainnya.
Gimana ya ceritanya Indonesia bisa punya gaya arsitektur yang unik dan nyeleneh gini? Kalau kamu penasaran, simak artikel ini sampai habis!
Hal-Hal Perlu Diketahui Tentang Arsitektur Jengki
Apa Itu Gaya Arsitektur Jengki?
Banyak orang meyakini istilah “Jengki” berasal dari “Yankee,” yang mencerminkan pengaruh budaya Amerika bagi Indonesia pada era pasca-kemerdekaan (1950 – 1970-an) melalui film, majalah, dan budaya populer. Gaya arsitektur ini hadir sebagai bentuk perlawanan terhadap pengaruh arsitektur gaya Eropa yang kaku, simetris, dan rapi.
Gerakan arsitektur ini mengambil inspirasi dari beberapa sumber. Budaya populer Amerika pada pertengahan abad ke-20, yang tersebar melalui film dan majalah Hollywood, memperkenalkan masyarakat Indonesia pada estetika desain yang ramping dan futuristik.
Karena keunikannya, seorang fotografer bernama Tariq Khalil mendokumentasikan gaya arsitektur jengki dalam buku berjudul RETRONESIA: The Years of Building Dangerously. Ia melakukan perjalanan keliling Indonesia selama 10 tahun untuk menggali sejarah dan mencari tahu keberadaan bangunan bersejarah tersebut.
Menurutnya, gaya arsitektur Jengki ibarat musik dangdut, banyak elemen dari budaya luar yang dicampurkan hingga akhirnya menjadi sebuah kesatuan yang unik.
Terwujud dalam bangunan hunian kelas menengah, ruko, hingga hotel kecil, bangunan bergaya Jengki mewakili optimisme tentang masa depan, kebanggaan akan kemerdekaan Indonesia, serta partisipasi dalam budaya modern global, sambil tetap mempertahankan karakter lokal yang khas.
Awal Mula Dikenalnya Gaya Arsitektur Jengki
Generasi pertama arsitek Indonesia melahirkan gaya arsitektur Jengki sebagai bentuk perlawanan terhadap arsitektur kolonial dan Hindia Belanda. Mereka mulai menolak pengaruh tersebut karena Indonesia pasca kemerdekaan sedang mencari identitas arsitekturnya sendiri.
Arsitektur ini muncul pada periode penting dalam sejarah Indonesia, khususnya pada era Demokrasi Terpimpin di bawah Presiden Soekarno (1959–1965), lalu berkembang hingga awal Orde Baru. Pada masa ini, pemerintah dan masyarakat Indonesia sedang gencar membangun bangsa, menegaskan identitas budaya, serta mengembangkan ekonomi setelah melewati perjuangan kemerdekaan yang penuh gejolak.
Titik balik terjadi setelah perang berakhir pada 1949, terutama sepanjang dekade 1950-an hingga 1960-an. Pada periode tersebut, Presiden Soekarno meluncurkan proyek besar “Pembangunan Bangsa” untuk membangun sekaligus mendefinisikan kembali identitas Indonesia sebagai negara merdeka.
Namun, arsitektur Indonesia pada awal kemerdekaan masih banyak mengikuti pengaruh Modernisme Belanda, khususnya aliran desain arsitektur Delft dan De Stijl.
Ketika pemerintah Indonesia mulai mengambil alih aset dan investasi Belanda di Indonesia, pemerintah Belanda menarik para ahli mereka, termasuk arsitek profesional. Kondisi ini membuat Indonesia harus menghadapi kekurangan tenaga arsitek yang memiliki kompetensi setara dengan para arsitek Belanda.
Pendidikan arsitektur tingkat universitas di Indonesia sendiri baru dimulai pada 1952. Saat itu, jumlah insinyur sipil Indonesia belum mencapai 200 orang. Sebagian besar tenaga yang tersedia masih berasal dari sekolah menengah kejuruan atau sekolah menengah atas.
Para calon arsitek Indonesia kemudian mengembangkan kemampuan merancang bangunan melalui pendidikan dan bimbingan dari arsitek Belanda. Setelah lulus ujian keahlian bidang bouwkunde (seni bangunan) dan memperoleh izin dari pemerintah kota Belanda, mereka dapat mulai menjalankan praktik sebagai arsitek.
Namun, pendidikan dan pengalaman tersebut masih membatasi kemampuan mereka pada pemahaman jenis serta bentuk ruang. Mereka belum sepenuhnya menguasai keterampilan desain arsitektur.
Kesenjangan antara kemampuan yang tersedia dan semangat nasionalisme mendorong para pembangun lokal untuk mencari bentuk arsitektur yang lebih mencerminkan identitas Indonesia. Dari sini, kemudian lahirlah arsitektur Jengki.
Ciri Khas Arsitektur Jengki
Garis Atap Dinamis dan Bentuk Asimetris
Salah satu ciri yang paling mudah dikenali dari arsitektur Jengki adalah garis atapnya yang berani dan bersudut.
Berbeda dengan arsitektur tradisional Indonesia dengan atap puncak simetrisnya, bangunan Jengki menampilkan bentuk atap yang sangat asimetris dengan sudut tajam, atap yang menjorok ke luar, dan terkadang beberapa bidang atap yang berpotongan pada sudut yang tak terduga.
Elemen Beton Dekoratif
Bangunan Jengki banyak menggunakan blok beton dekoratif (roster beton) dan layar berlubang yang berfungsi baik secara fungsional maupun estetika. Elemen-elemen ini menyediakan ventilasi dan cahaya yang tersaring sekaligus menciptakan pola geometris yang khas pada fasad.
Motif yang umum digunakan meliputi lingkaran, segitiga, belah ketupat, dan desain abstrak yang menambah daya tarik visual sekaligus menjaga privasi.
Fasad Dinding Berwarna-Warni
Meskipun beberapa bangunan Jengki masih menggunakan beton alami atau dicat putih, banyak yang menampilkan skema warna berani yang akan dianggap modern dan progresif pada zamannya. Warna biru, kuning, hijau, dan oranye yang cerah sering kali menjadi aksen pada fitur arsitektur utama, bingkai jendela, atau elemen dekoratif.
Perpaduan Material dan Tekstur
Bangunan khas Jengki menggabungkan berbagai material dan perlakuan permukaan termasuk beton ekspos, lantai teraso, pekerjaan ubin dekoratif, aksen batu alam, dan plester yang dicat. Perpaduan material yang eklektik ini menambah kekayaan visual dan menunjukkan keahlian pembangunnya.
Penekanan Horizontal dan Elemen Kantilever
Arsitektur Jengki sering menggunakan garis horizontal yang tegas melalui atap yang menjorok panjang, kanopi kantilever, dan deretan jendela atau elemen dekoratif horizontal. Fitur-fitur ini menciptakan bayangan dinamis dan menekankan hubungan bangunan dengan lokasinya sekaligus melindungi dari sinar matahari dari iklim tropis Indonesia.
Beranda Luas
Rumah modern biasanya memiliki beranda yang sempit karena keterbatasan lahan. Namun, hal ini tidak berlaku untuk rumah bergaya jengki.
Pada masa keemasan arsitektur jengki, bagian berandanya luas sehingga para penghuni maupun tamu dapat leluasa bersantai di beranda. Atap beranda didominasi oleh bentuk melengkung untuk meminimalkan kesan monoton dari arsitektur Eropa yang kaku.
Bangunan-Bangunan yang Mengadopsi Gaya Arsitektur Jengki
Gaya jengki pertama kali muncul di lingkungan kelas menengah Jakarta seperti Kebayoran Baru, Menteng Dalam, dan Rawamangun. Banyak rumah-rumah di sana yang masih dihuni oleh pemilik aslinya atau generasi penerusnya.
Berikut adalah beberapa daftar bangunan yang berhasil terdokumentasi menggunakan gaya Jengki:
- Hotel Sinar Indah, Solo, Jawa Tengah (awal tahun 1960-an)
- Bekas bungalow manajer Shell, Palembang, Sumatera Selatan (pertengahan tahun 1950-an)
- Museum Perjuangan, Yogyakarta, Jawa Tengah (1959)
- Rumah Hansel dan Gretel, dibeli oleh juragan tembakau kaya raya bernama Haji Samsul, Madura (awal tahun 1960-an)
- Bekas aula Simposium Belanda, ITB Bandung, Jawa Barat (1956)
- Kediaman Salim Martak, Surabaya, Jawa Timur (direnovasi menjadi bergaya Jengki pada tahun 1963)
Arsitektur Jengki mewakili babak penting dalam sejarah budaya dan arsitektur Indonesia. Bangunan-bangunan ini mewujudkan optimisme, kreativitas, dan identitas nasional dari periode penting dalam perkembangan bangsa.
Namun, sayangnya gaya arsitektur tersebut sudah jarang terlihat. Bahkan, beberapa bangunan yang memiliki gaya jengki sudah ditinggalkan atau direnovasi.
Baca juga:
- Filosofi Luhur di Balik Rumah Adat Sumba, Kamu Juga Bisa ke Sini Lho!
- Mari Mengenal Sejarah Gedung Sate Bandung dan Asal-Usul Namanya yang Unik
- Bobobox Pods Kebayoran Baru dan Tempat Hangout di Sekitarnya!
- 9 Bangunan Kuno Bandung yang Wajib untuk Kamu Singgahi!
Temukan Pengalaman Menginap Unik Bersama Bobobox

Kalau kamu suka mengeksplorasi cerita di balik bangunan, budaya, dan berbagai destinasi menarik di Indonesia, temukan lebih banyak inspirasi perjalanan bersama Bobobox.
Kamu bisa merasakan pengalaman menginap yang praktis, hemat, dan unik dari penginapan lain dengan booking pod favorit di Bobopod.
Hampir semua aktivitas menginap kamu terintegrasi melalui aplikasi seperti untuk memesan pod, mengatur lampu, dan lain-lain. Selain itu, suasananya tenang dan hening akan kamu dapatkan saat masuk ke pod-nya. Desainnya yang modern juga enak untuk dinikmati, apalagi buat kamu yang suka foto-foto.
Beneran hemat nggak, nih? Kalau masih kurang yakin, coba deh download aplikasi Bobobox! Di sana, ada beragam promo menarik, salah satunya Early Booking. Makin cepat kamu booking, makin gede juga diskonnya. Promo ini berlaku untuk semua lokasi Bobopod, Bobocabin, dan CriB, lho!
Header image by: Dillon Kydd via Unsplash




