Sama halnya dengan mitologi Yunani dan Romawi, kisah tentang dewi laut mitologi Indonesia juga sarat akan asal-usul unik dan kekuatan supernatural yang memikat.
Sebagai negara bahari dengan ribuan pulau, cerita mengenai sosok dewi penguasa perairan dan lautan menjadi salah satu mitologi yang sangat populer di masyarakat lokal di berbagai daerah.
Meski banyak orang mengasosiasikan Nyi Roro Kidul dengan penguasa lautan, mitologi Nusantara sebenarnya menyimpan banyak figur dewi laut lainnya yang tak kalah melegenda.
Mulai dari legenda di pesisir Sumatra, Jawa, Bali, hingga pulau-pulau di Indonesia Timur, simak beragam kisah dan fakta menarik seputar dewi penguasa lautan berikut ini!
Legenda Dewi Laut Mitologi Indonesia

Putri Hijau
Legenda Putri Hijau cukup lekat dengan daerah Sumatra Utara dan Aceh. Sosok dewi laut mitologi Indonesia ini konon merupakan putri Kerajaan Tanah Deli yang memancarkan cahaya berwarna hijau dan terkenal akan kecantikannya.
Ketika lamaran Raja Aceh ditolak, timbul peperangan yang membuat sang Putri diboyong menggunakan kapal. Di tengah perjalanan, seekor naga dari lautan datang menyelamatkannya dan membawa sang Putri ke istana dasar laut di sekitar Pulau Berhala.
Selain mitos dasar laut tersebut, jejak peninggalan legenda ini juga dapat kamu jumpai di daratan melalui cagar budaya Situs Benteng Putri Hijau di Namorambe, Deli Serdang.
Dewi Lanjar
Jika di selatan ada Kanjeng Ratu Kidul, pantai utara Jawa memiliki dewi penguasa lautan bernama Dewi Lanjar. Sosok dalam mitologi Indonesia ini diyakini memiliki kerajaan gaib di tepi Pantai Slamaran, Pekalongan, Jawa Tengah.
Konon, Dewi Lanjar mulanya merupakan wanita biasa yang kehilangan suami di usia muda dan belum mempunyai anak. Duka akibat kehilangan sang suami membawanya bertapa ke pantai selatan hingga akhirnya menjadi anak buah Kanjeng Ratu Kidul.
Kegagalan dalam sebuah misi membuatnya meminta izin kepada sang Ratu untuk tinggal di Pekalongan. Sejak itu, ia pun menjadi dewi penguasa lautan utara.
Dewi Penguasa Laut di Bali
Melansir Indonesia.go.id, AA Kade Sri Yudari dalam disertasinya yang berjudul Persepsi Masyarakat terhadap Mitos Ratu Kidul di Pesisir Bali Selatan, Kajian Wacana Naratif mengungkapkan bahwa Bali memiliki dua versi dewi penguasa lautan.
Salah satunya adalah versi yang sama dengan Penguasa Laut Selatan Jawa. Hal ini berkenaan dengan adanya aksara Jawa dan Bali yang menunjukkan kesamaan informasi terkait penguasa pantai selatan tersebut.
Bahkan, hotel bersejarah di kawasan Sanur yang kini direvitalisasi menjadi Bali Beach Hotel/The Meru Sanur tetap mempertahankan kamar khusus yang disucikan untuk sosok penguasa laut selatan tersebut.
Putri Mandalika
Putri Mandalika merupakan sosok dewi laut mitologi Indonesia yang amat dianggap sakral oleh masyarakat etnis Sasak, Pulau Lombok. Kebaikan dan kecantikan sang Putri membuahkan lamaran dari pangeran di berbagai kerajaan.
Akan tetapi, Putri Mandalika memilih untuk mengorbankan dirinya dengan menceburkan diri ke laut agar tidak menimbulkan perpecahan. Tubuhnya pun hilang tanpa jejak, dan tak lama setelah itu muncullah cacing laut (nyale) aneka warna yang dipercaya sebagai perwujudan sang Putri.
Saking sakralnya, legenda ini berkembang menjadi ritual tahunan Bau Nyale (upacara menangkap cacing laut) di Pantai Seger, Lombok Tengah. Pelaksanaan ritual ini biasanya jatuh di sekitar bulan Februari atau Maret.
Meski demikian, tanggal pastinya ditetapkan secara khusus setiap tahun melalui musyawarah adat (Sangkep Warige) oleh para tokoh masyarakat Sasak berdasarkan kalender tradisional.
Ratu Junjung Buih
Beralih ke Kalimantan Selatan, kisah Ratu Junjung Buih menjadi salah satu cerita dewi laut dalam mitologi Indonesia. Masyarakat setempat mengenal sosok ini sebagai putri penguasa Kerajaan Nagara Dipa (cikal bakal Kesultanan Banjar) yang juga memiliki kaitan dengan kekuatan laut dan perairan di sekitar Selat Karimata.
Konon, Raja Kerajaan Amuntai menemukan Ratu Junjung Buih saat bertapa di Candi Agung. Ia muncul dari tumpukan buih di tepi sungai.
Ina Kabuki
Masyarakat etnis Buru, Pulau Buru, Kepulauan Maluku juga meyakini adanya dewi penguasa lautan bernama Ina Kabuki. Sosok dalam mitologi Indonesia ini disebut-sebut bertahta di dasar Teluk Kayeli.
Perbedaan Kanjeng Ratu Kidul dan Nyi Roro Kidul
Membahas mitologi Indonesia tak lengkap rasanya tanpa menyertakan Ratu Laut Selatan. Jika ditanya mengenai hal ini, tidak sedikit orang yang mengasosiasikannya dengan sosok Nyi Roro Kidul.
Namun, rupanya ada dua nama yang muncul terkait penguasa laut selatan dalam mitologi Indonesia, yaitu Kanjeng Ratu Kidul dan Nyi Roro Kidul. Lantas, apa yang membedakan keduanya?
Kanjeng Ratu Kidul
Kanjeng Ratu Kidul diyakini sebagai keturunan para dewa yang berasal dari langit. Ia memiliki sifat mulia dan baik hati serta kerap turun ke dunia dengan wujud tertentu.
Sang Ratu biasanya menampakkan diri hanya untuk memberi peringatan atau isyarat akan datangnya kejadian penting. Ia juga diyakini memiliki istana di Samudra Hindia dan berkuasa atas ombak lautan tersebut. Bisa dikatakan, Kanjeng Ratu Kidul ini adalah Dewi Penguasa Laut Selatan.
Dalam mitologi Jawa, masyarakat setempat meyakini sang Ratu sebagai pasangan spiritual dari para Raja Mataram berikut keturunannya di Kasunanan Surakarta dan Kasultanan Yogyakarta.
Nyi Roro Kidul
Di sisi lain, mitos yang beredar menyebutkan Nyi Roro Kidul mulanya merupakan seorang putri raja Sunda. Dalam salah satu versinya, Nyi Roro Kidul ini terlahir dengan nama Dewi Kandita atau Kadita. Ia terkena guna-guna dari dukun sakti yang mendapat perintah dari pihak kerajaan yang iri dengan kecantikannya.
Akibatnya, wajah rupawan Kandita berubah buruk rupa. Ia pun terusir dari kerajaan lalu melompat ke lautan untuk mendapatkan kembali kecantikannya. Meski kembali jelita, dewi laut mitologi Indonesia ini tidak bisa kembali ke tempat asalnya.
Ia pun diangkat menjadi ratu oleh para lelembut yang menghuni pantai selatan Jawa. Selain menjadi ratu para lelembut, pendapat lain menyebutkan bahwa Nyi Roro Kidul merupakan bawahan Kanjeng Ratu Kidul.
Ia menjabat sebagai patih yang mengurusi dunia luar dan bertugas menjaga pantai selatan. Hal inilah yang membuat Nyi Roro Kidul dikenal lebih luas dan dianggap sebagai penguasa laut selatan.
Sejarah dan Kemunculan Mitos Penguasa Laut Selatan

Berdasarkan sejarah, Ratu Pantai Selatan dalam mitologi Indonesia memiliki keterkaitan dengan Kerajaan Mataram-Islam. Sastrawan kenamaan Pramoedya Ananta Toer menyebutkan munculnya mitos itu sebagai buntut dari kekalahan Sultan Agung.
Sultan Agung ini merupakan raja ke-3 Kesultanan Mataram yang Memerintah sejak tahun 1613-1645. Ia mengalami kekalahan dalam operasi militernya terhadap Batavia yang dikuasai Belanda sekaligus kegagalan untuk menguasai jalur perdangan Pantai Utara Jawa.
Akibatnya, para pujangga istana Mataram menciptakan mitos seputar Nyi Roro Kidul untuk menutupi kegagalan tersebut. Hal itu tertuang dalam karya sastra “Babad Tanah Jawi” yang berisi kisah tentang Mataram dan isinya serta silsilah para raja Jawa.
Kerajaan Mataram sendiri didirikan oleh Panembahan Senopati yang menjadi titik awal hubungan Mataram dengan Penguasa Pantai Selatan. Dari sana, timbullah anak mitos lain yang mengatakan Panembahan Senopati beserta keturunannya memiliki hubungan khusus dengan Ratu Pantai Selatan.
Konon, setiap penobatan raja sekaligus menjadi momen pernikahan spiritual dengan sang Ratu. Beredarnya mitos ini pun membantu memperkuat legitimasi kekuasaan raja-raja Mataram dan mengukuhkan bahwa Mataram masih menguasai Laut Selatan (Samudra Hindia).
Singkatnya, laut menjadi salah satu sumber penghidupan yang membuat masyarakat bisa makan dan menghidupi keluarga. Mereka tidak bisa memperlakukannya secara sembarangan dan meyakini adanya kekuatan besar di dasar laut.
Kekuatan tersebut tak hanya menentukan besar kecilnya tangkapan, namun juga keselamatan. Hal tersebut kemudian terwujud dalam sosok Ratu Pantai Selatan. Alhasil, masyarakat percaya akan keberadaan dan kekuatan sang ratu, yang dengan demikian menjadi dasar legitimasi kekuasaan Panembahan Senopati dan keturunan-keturunannya.
Dengan kata lain, rakyat yang tidak mau tunduk terhadap kekuasaan raja justru terpaksa tunduk di bawah mitos Kanjeng Ratu Kidul sebagai istri gaib raja. Hal ini tak pelak semakin memperkuat kepercayaan masyarakat akan sosok penguasa lautan tersebut. Dalam Babad Tanah Jawi itu bahkan tersirat janji sang Ratu untuk menjaga Kerajaan Mataram beserta para sultan, keluarga kerajaan dan masyarakatyna dari segala malapetaka.
Nikmati Pengalaman Menginap Seru dan Unik Bersama Bobobox!

Eksplorasi kekayaan budaya serta kisah dewi laut mitologi Indonesia memang selalu menarik untuk ditelusuri. Setelah puas jalan-jalan dan mengenal kisah-kisah legendaris di berbagai daerah, saatnya kamu merencanakan liburan impian yang nyaman dan fleksibel bersama Bobopod dan Bobocabin!
Bagi kamu yang ingin rehat sejenak di tengah hiruk-pikuk kota, Bobopod hadir sebagai hotel kapsul modern dengan desain futuristik yang siap memberikan kenyamanan ekstra.
Akan tetapi, jika kamu lebih merindukan ketenangan alam dengan panorama memukau, Bobocabin adalah pilihan tepat untuk merasakan sensasi glamping mewah berfasilitas canggih di tengah asrinya pepohonan.
Menginap di Bobobox kini makin praktis dan menyenangkan berkat berbagai fitur unggulan, seperti:
- Keyless Access: Akses masuk pod dan cabin yang cepat dan aman cukup melalui smartphone.
- Smart Window & B-Pad: Atur privasi jendela dan kendalikan semua fasilitas pod/cabin dalam satu sentuhan.
- Custom Moodlamp & Bluetooth Speaker: Sesuaikan warna pencahayaan ruangan dan putar musik favoritmu untuk membangun suasana rileks.
- Wi-Fi Kencang & Area Komunal: Cocok untuk kamu yang ingin tetap produktif saat work from anywhere (WFA).
Baca Juga
- 16 Makhluk Mitologi Laut Paling Seram dan Misterius!
- 14 Pantai di Indonesia yang Paling Indah dan Unik
- Gimana Rasanya Nginep di Bobobox? Cari Tahu di Sini, Yuk
- Nikmati Keseruan Liburan Staycation di Bobocabin Ranca Upas Bandung!
Segera download aplikasi Bobobox sekarang untuk amankan pod atau cabin impianmu sebelum kehabisan!
Header image by: Ziyao Xiong via Unsplash




