Menghilangnya suatu tempat seperti kota atau pulau bukan sekadar cerita di film atau ramalan masa depan, lho. Destinasi wisata yang akan hilang itu sungguh ada, apalagi kini planet kita tengah menghadapi ancaman serius akibat perubahan iklim. Sebut saja naiknya permukaan laut, mencairnya gletser, hingga pemutihan terumbu karang.
Tak hanya faktor alam, industri lokal dan jumlah wisatawan yang membludak (dan seringnya tidak bertanggungjawab) juga ikut merusak sejumlah destinasi ikonik. Pada tahun 2030–2050, banyak tempat yang dulunya terkenal diperkirakan mengalami perubahan drastis, pembatasan akses, atau bahkan hilang sepenuhnya.
Destinasi mana saja, ya? Berikut Bob rangkumkan buat kamu beberapa tempat yang mungkin tak bisa manusia kunjungi lagi di masa depan!
10 Destinasi Wisata yang Akan Hilang dalam Beberapa Dekade
1. Venesia, Destinasi Primadona di Italia yang Akan Tenggelam
Destinasi wisata yang akan hilang pertama di daftar ini adalah Venesia. Kamu tentu sudah mengetahui kecantikan pemandangan kota yang ditawarkan oleh tempat wisata kota apung di Italia ini.
Kota ini punya banyak bangunan dan kawasan bersejarah dengan kanal-kanal serta gondola romantisnya. Nggak heran banyak wisatawan dari seluruh penjuru dunia datang ke Venesia untuk berbulan madu. Pada tahun 2024 saja, jumlah pengunjung kota ini masih di atas 5 juta.
Walaupun kejernihan airnya sudah semakin membaik, masalah lain yang muncul adalah tempat wisata ini kerap dilanda banjir. Setiap tahunnya, batas air laut di St. Marks Square naik sebanyak 4-6 milimeter.
Saat banjir besar melanda pada tahun 2012, hampir sebagian besar kota terendam banjir. Bahkan, para ahli memperingatkan, jika terus seperti ini, maka pada tahun 2030, perairan akan lebih mendominasi Venesia ketimbang daratan.
Penduduk setempat berpotensi terpaksa mengungsi. Bisa jadi, kota yang selama ini kita kenal dengan kanal-kanalnya itu hanya menyisakan puing-puing kejayaannya di masa lalu.
2. Kepulauan Solomon, Destinasi Wisata yang Akan Hilang
Baru-baru ini, Lonely Planet (sebuah publisher panduan wisata internasional ternama) menobatkan menobatkan Kepulauan Solomon sebagai Top 25 ‘Best places to visit in 2026’, lho. Gugusan pulau di Pasifik Selatan ini menawarkan pantai yang masih alami, laut jernih, serta spot untuk snorkeling dan menyelam.
Sayangnya, pulau yang cantik ini termasuk destinasi wisata yang akan hilang beberapa dekade yang akan datang. Kepulauan Solomon terdiri dari hampir 1.000 pulau dan atol, tetapi sejumlah pulau kecil di wilayah ini mulai ditelan oleh laut.
Sejak 1993, permukaan laut di kawasan tersebut tercatat naik sekitar 8 milimeter per tahun. Kenaikan ini cukup mengkhawatirkan karena ibu kota Provinsi Choiseul hanya berada sekitar 2 meter di atas permukaan laut.
Bahkan, sebuah penelitian yang terbit pada 2016 di jurnal Environmental Research Letters mencatat ada 5 pulau karang yang sudah menghilang. Beberapa desa yang sudah berdiri sejak 1935 pun ikut hancur akibat garis pantai yang terus menyusut.
3. Taman Nasional Glacier, Destinasi Wisata yang Akan Hilang di AS
Taman nasional ini terkenal akan pemandangannya yang bikin susah berpaling, sampai orang-orang menjulukinya Mahkota Benua. Terletak di Pegunungan Rocky di Montana utara, Taman Nasional Glacier mengambil namanya dari sungai-sungai es dan kekuatan gletser yang membentuk topografi terjalnya selama lebih dari 2 juta tahun.
Namun, menurut National Park Service (NPS), beberapa ilmuwan memperkirakan gletser di taman ini bisa menghilang pada 2030, lho. Ukurannya memang sudah menyusut begitu signifikan hingga para ilmuwan dari U.S. Geological Survey menjadikan Taman Nasional Glacier sebagai salah satu lokasi utama untuk meneliti dampak perubahan iklim.
4. Machu Picchu, Destinasi Wisata yang Akan Hilang di Peru
Kalau liburan ke Peru, rasanya belum lengkap kalau belum mampir ke Machu Picchu. Pemandangan pegunungan yang dramatis berpadu dengan reruntuhan bersejarah membuat tempat ini memang sulit untuk dilewatkan. Sayangnya, popularitas Machu Picchu justru menjadi salah satu masalahnya.
Volume wisatawan yang tinggi, memperbesar risiko kerusakan pada situs bersejarah ini. Terlebih lagi, ada pengunjung yang tidak mengikuti jalur yang sudah ditentukan dan malah memanjat reruntuhan yang rapuh.
Belum lagi, kepentingan lokal dan regional yang saling tumpang tindih terus menyusup ke dalam ranah manajemen destinasi ini. Karenanya, pihak berwenang memutuskan untuk membatasi jumlah pengunjung harian (semakin ketat tiap tahunnya) dan berpotensi dihentikan sepenuhnya demi upaya konservasi yang ekstensif.
5. Maladewa, Destinasi Alam yang Terancam Hilang
Berbicara soal tempat wisata terindah, Maladewa menjadi salah satu yang kerap kali disebut. Tak mengherankan juga jika Maladewa menjadi destinasi favorit bagi pasangan yang ingin berbulan madu.
Sebagai salah satu tempat terindah, Maladewa disebut-sebut sebagai salah satu destinasi wisata yang akan hilang. Kenyataan pahit ini mulai muncul ke permukaan setelah dilanda tsunami pada tahun 2004.
Saat itu, 40 persen dari Maladewa telah terendam air. Bahkan, sebuah prediksi menyebutkan bahwa tahun 2100, batas air laut di Maladewa akan mencapai 97 centimeter. Jika seperti ini, Maladewa pun akan hilang ditelan laut.
6. Seychelles, Destinasi Wisata yang Akan Hilang di Samudera Hindia
Negara kepulauan di Samudra Hindia ini terdiri dari sekitar 115 pulau dengan pantai berpasir putih, laut jernih, dan deretan resor mewah. Nggak cuma menarik wisatawan, Seychelles juga menjadi rumah bagi hampir 90.000 penduduk.
Sayangnya, pulau-pulaunya kini mengalami erosi pantai, sementara terumbu karang di sekitarnya juga pernah mengalami kematian massal yang menyebabkan kerusakan ekosistem laut. Kondisi tersebut membuat wilayah pesisir Seychelles semakin rentan terhadap perubahan lingkungan dan kenaikan permukaan laut.
Yang lebih mengkhawatirkan, Kantor Berita Seychelles sendiri melaporkan bahwa kenaikan permukaan laut sekitar 1 meter saja dapat menenggelamkan banyak pulau dataran rendah dan kawasan pesisir tempat masyarakat tinggal.
Dampaknya bisa sangat besar karena sekitar 70% luas daratan Seychelles berpotensi hilang. Jika kondisi tersebut terus memburuk, beberapa ahli berani memperkirakan seluruh Kepulauan Seychelles dapat tenggelam dalam 50–100 tahun mendatang.
7. Polinesia, Destinasi Kelas Dunia yang Terancam Punah
Destinasi tropis ini mencakup tempat populer seperti Bora Bora, Tahiti, dan Kepulauan Society yang terkenal dengan laguna jernih, pemandangan eksotis, serta bungalow ikonik di atas air. Namun, ternyata, Polinesia masuk daftar destinasi wisata yang akan hilang di masa mendatang, lho.
Kok bisa? Penyebabnya hampir sama dengan destinasi-destinasi sebelumnya, yaitu ancaman kenaikan permukaan pulau akibat perubahan iklim drastis.
Sebuah penelitian yang diterbitkan di Nature Conservation memprediksi sekitar 30% pulau di Polinesia Prancis dapat terendam pada akhir abad ini. Pemerintah setempat bahkan sudah mencetuskan ide untuk membangun “pulau terapung” di dekat Tahiti sebagai alternatif relokasi penduduk.
8. Pegunungan Alpen, Destinasi Wisata Ski yang Akan Hilang
Kawasan ini merupakan salah satu tujuan ski paling terkenal di dunia, lengkap dengan hamparan salju dan gletser yang menjadi bagian penting dari lanskapnya. Namun, perubahan iklim abad ini membuat Pegunungan Alpen menjadi salah satu dari jajaran destinasi wisata yang akan hilang.
Alpen berada di ketinggian yang lebih rendah dibandingkan dengan Pegunungan Rocky sehingga gletsernya lebih rentan terhadap kenaikan suhu. Setiap tahun, sekitar 3% dari es gletsernya hilang. Kalau laju pencairan terus berlangsung seperti sekarang, para ahli percaya bahwa gletser Alpen bisa menghilang sepenuhnya pada 2050.
9. Kepulauan Magdalen, Quebec, Kanada
Bayangkan liburan di tengah pantai berpasir, tebing batu pasir berwarna kemerahan, dan panorama laut luas di Teluk St. Lawrence. Itulah pesona Kepulauan Magdalen, destinasi wisata yang akan hilang di Quebec, padahal lanskapnya cantik dan suasananya tenang.
Akan tetapi, kepulauan ini cukup sering diterpa angin kencang, sementara garis pantainya sekarang terkikis hingga sekitar 1 meter setiap tahun. Selama ini, lapisan es laut di sekitar pulau membantu meredam dampak cuaca ekstrem tersebut.
Masalahnya, es pelindung itu juga mencair dengan cepat. Jika benar-benar hilang dalam sekitar 75 tahun ke depan, pantai Kepulauan Magdalen akan jauh lebih rentan mengalami badai dahsyat.
10. Gletser Athabasca, Alberta, Kanada
Destinasi wisata yang akan hilang selanjutnya masih di Kanada, tepatnya di Gletser Athabasca. Berada di Provinsi Alberta, Kanada, gletser ini merupakan salah satu gletser yang paling banyak wisatawan kunjungi di Amerika Utara dan menjadi bagian dari Columbia Icefield yang luasnya sekitar 6 km².
Sayangnya, ukurannya terus menyusut selama lebih dari satu abad. Dalam 125 tahun terakhir, bagian selatan gletser telah mundur hampir 1,6 kilometer. Saat ini, llajunya kini semakin mengkhawatirkan, bahkan Athabasca tercatat kehilangan sekitar 2–3 meter es setiap tahun.
Baca juga:
- 14 Pantai di Indonesia yang Paling Indah dan Unik
- 7 Rekomendasi Tempat Liburan Anti-Mainstream untuk Zodiak Leo
- Panduan Wisata Gunung Mas Puncak Bogor
- Pantai Jungwok Gunungkidul: Surga Tersembunyi nan Memikat Hati
Cari Penginapan Dekat Alam tapi Nyaman? Bobocabin Solusinya!
Melihat daftar destinasi wisata yang akan hilang di atas tentu bikin kita makin sadar akan rasa bertanggung jawab dan syukur karena masih bisa menikmati keindahan alam. Salah satu bentuk syukurnya bisa kamu wujudkan dengan staycation di penginapan dekat dengan alam.
Nah, kalau kamu cari penginapan yang menyatu dengan alam tapi tetap nyaman, yuk menginap di Bobocabin. Salah satu branch Bobocabin yang indah banget adalah Bobocabin Coban Rondo, Malang. Sesuai namanya, penginapan ini berada nggak jauh dari Air Terjun Coban Rondo, dengan jarak perjalanan sekitar 2,1 km saja.
Bobocabin ini memiliki total 26 cain dengan beberapa pilihan tipe, mulai dari Deluxe, Deluxe Hot Tub, dan Executive. Di dalam kabin, tersedia area tidur dengan jendela lebar yang menghadap langsung ke hutan rimbun. Tingkat transparansi jendelanya bisa kamu naik turunkan, kok.
Nggak hanya jendela, fasilitas di dalam kabin juga dirancang supaya tamu merasa nyaman meski menginap di tengah hutan. Setiap cabin dilengkapi AC, teko air panas, air mineral, gelas, serta kamar mandi dalam dengan perlengkapan yang cukup lengkap dan water heater.
Nah, bagian yang bikin pengalaman menginap di Bobocabin terasa beda adalah teknologi di dalam cabinnya. Setiap unit dilengkapi tablet yang bisa digunakan untuk mengatur berbagai elemen kamar.
Mulai dari transparansi jendela, warna dan tingkat kecerahan lampu, hingga tinggi-rendahnya suhu AC, semuanya bisa kamu atur dari satu perangkat. Menarik, kan? Yuk, download aplikasi Bobobox sekarang untuk booking cabin favoritmu!




