Apa Itu Ripley Syndrome? Tema Psikologis The Second Anna

03 Aug 2026

Apa Itu Ripley Syndrome? Tema Psikologis The Second Anna

Penulis

Bobobox

Pernahkah kamu bertanya-tanya tentang apa itu Ripley Syndrome? Istilah yang awalnya belum terlalu familiar di telinga orang kini menjadi topik perbincangan yang menarik setelah drama terbaru Bae Suzy berjudul Anna meramaikan layanan streaming Coupang Play.

 

Berbeda dengan drama-drama Suzy sebelumnya, Anna merupakan drama berjumlah delapan episode yang mengusung genre psikologi thriller. Drama tersebut mengangkat kisah tentang seorang wanita bernama Yoo Mi yang mengalami gangguan Ripley syndrome.

 

Lalu, apa itu Ripley Syndrome? Cari jawabannya di sini!

 

Apa Itu Ripley Syndrome

 

Forest Bathing-Hutan-Pinus-Perempuan-Wanita-Reflexing
Photo: Mary Brennan via Unsplash

 

Definisi Ripley Syndrome

 

Sindrom Ripley adalah gangguan kepribadian antisosial ketika seseorang menyangkal dunia nyata, hanya percaya bahwa dunia fiksi adalah nyata, dan terbiasa berbohong dalam perkataan maupun perbuatan. 

 

Istilah tentang Ripley Syndrome berasal dari novel karya Patricia Highsmith, The Talented Mr Ripley. Dalam novel ini, Tom Ripley adalah seseorang yang begitu terobsesi dengan pencapaian status sehingga akhirnya ia berbohong pada dirinya sendiri dan hidup dalam dunia fantasinya sendiri. 

 

Sindrom Ripley terjadi ketika seseorang memiliki kebutuhan sosial yang besar untuk berprestasi, tetapi tidak memiliki cara untuk mewujudkan mimpinya. Dengan kata lain, jika kamu tidak dapat mencapai apa yang kamu impikan dengan begitu kuat, kamu menciptakan dunia imajinermu sendiri dan hidup di dalamnya. 

 

Gejala Ripley Syndrome

 

Untuk lebih memahami apa itu Ripley syndrome, gejala-gejala yang ditunjukkan mungkin bisa membantu. Seperti yang kamu saksikan dalam drama Anna, seseorang dengan Ripley syndrome terus mengulang kebohongan hingga kehilangan jati diri mereka.

 

Selain berbohong, gangguan kepribadian antisosial ini juga ditandai dengan gejala-gejala sebagai berikut:

 

  • Penipuan dan kebohongan berulang
  • Memiliki hubungan yang buruk dengan orang lain, bahkan cenderung menyakiti dan abusive
  • Bersikap arogan dan menganggap dirinya lebih unggul dari orang lain
  • Mudah marah, cemas, bersikap kasar, menghina, mengumpat, bahkan mengancam
  • Kurangnya empati terhadap orang lain dan rasa sesal telah merugikan orang lain
  • Sombong, merasa superior, dan sangat percaya diri
  • Seringkali terlibat masalah hukum dan tindakan kriminal
  • Menggunakan pesona atau kecerdikan untuk memanipulasi orang lain demi kepentingan atau kesenangan sendiri
  • Tidak bisa membedakan mana yang salah dan benar
  • Bertindak impulsif (tanpa pikir panjang dan perhitungan)
  • Tidak bisa memenuhi tanggung jawab terhadap keluarga, pekerjaan, kewajiban finansial atau sekolah

 

Orang dewasa dengan gangguan kepribadian antisosial biasanya menunjukkan gejala-gejala conduct disorder sebelum mencapai usia 15 tahun. Gangguan tersebut menunjukkan pola perilaku serius dan berulang, seperti:

 

  • Agresif terhadap manusia dan hewan
  • Perilaku merusak (destructive)
  • Melakukan kejahatan atau pelanggaran berat, misal menipu, mencuri, dan menggunakan obat terlarang
  • Pembolosan

 

Apa Penyebab Ripley Syndrome?

 

Terkait apa itu Ripley Syndrome dan apa yang dapat menyebabkan munculnya gangguan ini, sayangnya belum ada penyebab yang pasti. Namun, beberapa faktor psikologis dan pengalaman masa lalu diduga dapat memengaruhi munculnya perilaku terkait sindrom ini, di antaranya:

 

  • Luka batin di masa kecil, seperti diabaikan orang tua atau sering berganti pengasuh, dapat memengaruhi rasa aman dan kemampuan membangun hubungan.
  • Pelecehan emosional atau fisik dapat menimbulkan trauma dan membuat seseorang sulit mempercayai orang lain.
  • Ketidakstabilan emosional yang terbawa hingga dewasa memengaruhi cara seseorang mengelola emosi serta menghadapi lingkungan sosial.
  • Rendahnya harga diri dan takut ditolak, yang dapat mendorong seseorang menciptakan citra tertentu atau mengarang cerita demi mendapatkan perhatian dan penerimaan dari orang lain.

 

Park Han-son, seorang dokter di Departemen Antropologi Universitas Nasional Seoul, juga menambahkan informasi tentang Ripley Syndrome dan penyebabnya. Menurutnya, setiap orang memiliki keinginan untuk menjalani kehidupan yang sukses atau diakui dan dipuji oleh orang lain. 

 

Namun, kenyataannya, itu terlalu sulit. Oleh karena itu, orang mencari jalan pintas dengan cara menipu orang lain untuk kepuasan pribadi mereka sendiri. Dengan kata lain, penyebab Sindrom Ripley adalah gabungan rasa rendah diri dan suasana sosial saat orang mengejar kekayaan dan popularitas.

 

Apakah Ripley Syndrome Bisa Diobati?

 

Setelah mendapat gambaran tentang apa itu Ripley syndrome, kamu mungkin bertanya-tanya apakah gangguan ini bisa diobati. Sayangnya, belum ada obat atau treatment khusus untuk menangani Ripley Syndrome, tapi bukan berarti tidak bisa. 

 

Pengobatan sindrom ini cukup sulit. Pasien tidak menyadari maupun mengakui bahwa mereka punya gangguan mental ini. Pasalnya, mereka merasa sukses dan nyaman di dunia fantasi yang telah mereka ciptakan dengan citra yang dibangunnya melalui kebohongan. 

 

Namun, konselor dan dokter dapat membantu pasien menyadari dunia nyata dan membantu mereka keluar dari dunia fantasi tersebut. Jika tujuan ditetapkan terlalu tinggi, pasien akan berbohong kepada orang lain untuk menjadi seseorang yang ingin mereka pamerkan kepada orang lain. 

 

Orang-orang di sekitar mereka harus menurunkan ekspektasi dan tuntutan mereka. Ini dapat membantu mereka kembali ke dunia nyata dan menjadi orang yang lebih jujur. 

 

Menurut Park Han-son, penanganan pasien Ripley Syndrome juga harus berfokus pada dua penyebab yang disebutkan tadi, yaitu rasa rendah diri dan tekanan sosial untuk mengejar nilai-nilai kosmetik seperti kesuksesan, kekayaan, dan ketenaran. 

 

Salah satu pendekatannya adalah membantu seseorang memahami bahwa pengakuan sosial bukan satu-satunya ukuran nilai diri. Dengan pengarahan, mereka juga dapat belajar lebih menghargai kekuatan dan kualitas pribadi daripada pencapaian eksternal seperti uang, pendidikan, status, atau kehormatan.

 

Meski prosesnya tidak mudah, dukungan profesional dan lingkungan yang positif dapat membantu seseorang membangun cara pandang yang lebih sehat. 

 

Dengan belajar menerima diri dan melihat realitas secara lebih objektif, harapannya, merekaa tidak lagi merasa perlu berbohong demi mendapatkan pengakuan dari orang lain.

 

Risiko dan Bahaya Ripley Syndrome

 

Selain memahami apa itu Ripley Syndrome, penting juga untuk menyadari apa saja dampak yang ditimbulkannya. 

 

Jika tidak ada penanganan yang tepat, pola kebohongan dan penipuan Ripley Syndrome bisa merugikan penderita maupun orang-orang di sekitarnya, baik secara:

 

  • Finansial, akibat penipuan atau penyalahgunaan kepercayaan.
  • Mental, karena dapat memicu konflik, tekanan emosional, dan rusaknya hubungan.
  • Fisik, terutama jika perilaku tersebut berkembang menjadi tindakan yang membahayakan orang lain.
  • Sosial, karena kebohongan dan penyamaran dapat merusak reputasi serta kepercayaan.

 

Apakah Ripley Syndrome Juga Terjadi di Dunia Nyata?

 

Kamu mungkin pernah mendengar tentang Ripley Syndrome di banyak film dan drama. Lalu, apakah kasus serupa juga pernah terjadi di dunia nyata? Mari lihat beberapa contoh kasusnya:

 

Kim Jung-Yoon

 

Pada tahun 2015 di Korea Selatan, ada seorang siswi SMA berusia 18 tahun bernama Kim Jung-Yoon. Ia mengklaim dirinya mendapatkan nilai SAT sempurna sehingga diterima di Harvard dan Stanford secara bersamaan. Namun, semua itu ternyata bohong.

 

Kim juga mengaku lulus kuliah dalam waktu 2 tahun di masing-masing universitas tersebut. Mungkin siswi itu awalnya hanya melebih-lebihkan, tetapi saat ia tampil di televisi dan diwawancarai, kemungkinan ia semakin berani dan yakin dengan kebohongannya.

 

Tak berhenti sampai di situ, seterusnya Kim mengaku bahwa founder Facebook secara pribadi merekrutnya berkat tesis yang ia buat saat SMA di MIT. Setelah mengonfirmasi pernyataan Kim ke pihak universitas, ternyata tidak ada nilai SAT, universitas menolak penerimaannya. Begitu juga dengan pengajuan tesis di MIT. 

 

Yang sebenarnya, ia justru memalsukan nilai rapornya untuk mewujudkan keinginannya dan mendapatkan pengakuan orang lain. Kisah ini berakhir dengan permintaan maaf publik dari ayahnya.

 

Kasus Mahasiswa Baru-X

 

Kasus lainnya yang juga tak kalah menggemparkan terkait Ripley Syndrome adalah “Kasus Mahasiswa Baru-X” pada tahun 2014. Ada seorang pria (identitasnya disamarkan) yang berpura-pura menjadi mahasiswa baru di 48 universitas di Korea Selatan selama 6 tahun. 

 

Awalnya, ia menggunakan nama palsu, bergabung dengan klub, dan aktif mengikuti kegiatan di sekolah. Masalahnya, ia meminjam uang dari anggota klub dan beberapa kali menghilang. Kemudian, ia menggunakan informasi pribadi mahasiswa baru lainnya untuk meniru identitas mereka dan melanjutkan tindak kejahatannya. 

 

Bahkan, ia memiliki niat membunuh, dengan mengatakan, “Jika dia tidak ada, maka sayalah yang akan menggantikan dia.” Pada akhirnya, pria itu berhasil ditangkap. Setelah menjalani interogasi, ia menyatakan bahwa ia pernah diintimidasi saat SMP dan SMA, serta memiliki masalah kompleks terkait riwayat akademiknya. 

 

Jadi, ia berpura-pura menjadi orang lain supaya bisa berbaur dan diperhatikan oleh orang-orang. Perilaku dan pernyataannya merupakan perilaku khas pasien Sindrom Ripley. 

 

Dari penjelasan mengenai apa itu Ripley Syndrome di atas, kini kamu makin tahu bahwa sindrom ini bukan sekadar tentang kebiasaan berbohong. Di balik perilaku tersebut, bisa saja terdapat rasa rendah diri, pengalaman masa lalu, atau kebutuhan mendalam untuk diterima dan dihargai.

 

Baca Juga

 

 

Movie Marathon Makin Seru di Bobopod dan Bobocabin!

 

Kamar tidur Bobopod Airport CBC - hotel kapsul di indonesia
Photo: Bobobox Internal Asset

 

Ingin menikmati waktu sendiri sambil maraton drama atau film bertema psikologis? Yuk, rasakan sensasi menginap yang lebih privat di Bobopod atau Bobocabin!

 

Selain akses pintunya yang sudah pakai QR code pribadi, kamu juga bisa mengatur mood lamp dan alarm lewat ponsel, lho! Kaca jendela juga bisa diubah dari transparan menjadi buram sesuai kebutuhan, jadi lebih privat dan nyaman, kan?

 

Setelah puas menonton, makin seru kalau sekalian staycation atau jalan-jalan di sekitar lokasi penginapan. Terlebih lagi,  kalau booking-nya H-7 sebelum menginap, kamu berkesempatan menikmati promo Early Booking hingga 20%, berlaku di fasilitas Bobopod maupun Bobocabin favorit kamu. 

 

Yuk, download aplikasi Bobobox sekarang. Nemu promonya makin gampang, proses booking-nya makin aman!

 

Header image by: Priscilla Du Preez via Unsplash