Kucing lucu Indonesia ternyata tidak hanya merujuk pada anabul rumahan. Indonesia juga menjadi habitat beberapa spesies kucing liar dengan penampilan unik dan menarik. Ada yang memiliki bulu abu-abu kebiruan, pola seperti macan, hingga kemampuan berenang untuk mencari ikan.
Namun, sebagian besar kucing dalam daftar ini hidup liar dan mendapat perlindungan hukum. Jadi, kamu perlu mengenalnya sebagai bagian dari kekayaan fauna Indonesia, bukan untuk kamu pelihara di rumah.
Berikut tujuh jenis kucing lucu Indonesia yang menarik untuk kamu kenali!
Deretan Kucing Lucu Indonesia yang Langka dan Eksotis

Kucing Busok
Indonesia memiliki jenis kucing unik yang hanya bisa kamu temukan di Pulau Raas, Kabupaten Sumenep, Jawa Timur. Warga setempat menamainya kucing Busok. Sementara itu, sebagian pecinta kucing mengenalnya sebagai kucing Raas atau kucing Madura.
Kucing Busok memiliki tubuh gagah dengan ukuran lebih besar daripada kucing kampung. Bulunya pendek, tetapi lebih tebal dengan warna abu-abu kebiruan polos. Penampilannya pun sering mengingatkan orang pada Russian Blue atau British Shorthair.
Namun, kucing Busok memiliki sejarah dan karakter lokal yang berbeda. Masyarakat mengenalnya sebagai kucing khas Pulau Raas yang telah lama hidup berdampingan dengan warga setempat. Kucing ini juga konon pernah menjadi peliharaan keluarga ningrat Madura.
Pada masa lalu, masyarakat bahkan menjadikan kucing Busok sebagai cenderamata bagi tamu istimewa. Kini, masyarakat Pulau Raas berupaya menjaga keberadaan dan ciri khas populasi kucing tersebut.
Warga setempat juga memiliki aturan adat terkait perpindahan kucing Busok dari Pulau Raas. Aturan ini bertujuan menjaga keberadaan populasi lokal dan mencegah perkawinan dengan kucing dari luar pulau.
Bahkan, beberapa kelompok masyarakat mempercayai bahwa kucing Busok dapat membawa keberuntungan, lho. Namun, tindakan membawa kucing tersebut keluar dari pulau tanpa mengikuti aturan setempat justru bisa mendatangkan kesialan.
Karena itu, kucing Busok bukan sekadar kucing lucu Indonesia dengan penampilan menarik. Kucing ini juga menjadi bagian dari identitas dan tradisi masyarakat Pulau Raas.
Kucing Congkok (Leopard Cat)
Kucing Congkok merupakan kucing liar dengan nama ilmiah Prionailurus bengalensis. Nama ilmiah ini memperbarui penulisan lama yang masih menggunakan Prionailurus bengalensis dengan variasi ejaan berbeda.
Di Indonesia, spesies ini punya beberapa nama. Kamu mungkin pernah mendengar sebutan kucing kuwuk, meong congkok, blacan, atau kucing hutan.
Secara tampilan, kucing Congkok tampak seperti macan kecil. Bulunya memiliki warna keemasan hingga kecokelatan dengan motif totol gelap. Bentuk tubuhnya juga membuat sebagian orang keliru mengiranya sebagai anak macan.
Bulu kucing Congkok terasa pendek dan halus. Ekornya cukup panjang, sedangkan ukuran tubuhnya relatif mendekati kucing domestik.
Kucing Congkok termasuk salah satu jenis kucing liar yang tercantum dalam daftar satwa dilindungi Indonesia. Panduan identifikasi satwa KSDAE mencantumkan Prionailurus bengalensis dengan nama kucing kuwuk.
Karena itu, kamu tidak boleh menangkap atau memeliharanya dari alam. Perlindungan tersebut membantu menjaga populasi satwa liar dan habitatnya.
Ancaman terhadap kucing liar tidak hanya berasal dari perburuan. Perubahan fungsi hutan, fragmentasi habitat, dan konflik dengan aktivitas manusia juga dapat memengaruhi keberlangsungan populasinya.
Kucing Bakau
Kucing Bakau memiliki nama ilmiah Prionailurus viverrinus. Di dunia internasional, banyak orang mengenalnya sebagai fishing cat. Spesies ini hidup di sejumlah wilayah Asia Selatan dan Asia Tenggara. Di Indonesia, keberadaannya berkaitan erat dengan ekosistem lahan basah.
Habitatnya meliputi rawa, daerah aliran sungai, tepian perairan, serta kawasan mangrove. Karena itu, nama kucing bakau terasa sangat sesuai dengan karakter tempat hidupnya.
Kucing Bakau memiliki kemampuan berenang yang baik. Struktur kakinya mendukung aktivitas di lingkungan basah. Kemampuannya mencari mangsa di sekitar perairan juga menjadi ciri khas spesies ini.
Secara fisik, ukurannya dapat terlihat lebih besar daripada kucing domestik. Tubuhnya berwarna keabuan dengan pola garis dan totol.
KSDAE pun mencantumkan Prionailurus viverrinus sebagai kucing bakau dalam panduan identifikasi mamalia dilindungi. Jadi, masyarakat tidak boleh memelihara spesies ini secara sembarangan layaknya kucing rumahan, ya.
Keberadaan kucing bakau juga menunjukkan pentingnya menjaga ekosistem lahan basah. Ketika rawa dan mangrove terus berkurang, satwa yang bergantung pada kawasan tersebut ikut kehilangan ruang hidup.
Kucing Kepala Datar
Flat-headed cat atau kucing kepala datar memiliki nama ilmiah Prionailurus planiceps. Dalam panduannya, KSDAE juga menyebut spesies ini dengan nama kucing tandang. Sesuai namanya, kucing ini menampilkan bentuk kepala yang lebih datar saat kamu membandingkannya dengan jenis kucing pada umumnya. Selain itu, hewan ini juga memiliki posisi telinga yang cukup rendah di sisi kepala.
Kucing ini juga termasuk spesies berukuran kecil. Ukurannya relatif mendekati kucing domestik, tetapi bentuk wajah dan tubuhnya memberikan kesan berbeda. Warna wajahnya cenderung lebih terang. Sementara itu, bagian tubuhnya memiliki perpaduan cokelat kemerahan dan cokelat tua.
Seperti kucing bakau, kucing kepala datar juga beradaptasi dengan lingkungan basah. Spesies ini dapat kamu temukan di sekitar rawa, sungai, dan kawasan perairan lainnya.
Kucing kepala datar termasuk satwa yang sangat bergantung pada kondisi habitat. Karena itu, perubahan kualitas sungai dan lahan basah dapat memberi tekanan besar terhadap keberadaannya.
Di Indonesia, spesies ini tercatat hidup di Sumatra dan Kalimantan. Kamu pun perlu membiarkan satwa ini tetap berada di habitat alaminya.
Kucing Merah
Selanjutnya, ada kucing merah atau Bornean bay cat (Catopuma badia). Sesuai namanya, kucing ini merupakan spesies khas Pulau Kalimantan. Penampilannya terlihat lebih garang daripada beberapa kucing liar lain. Mata tajam dan moncongnya yang runcing membuat wajahnya tampak unik dan seperti rubah.
Warna tubuhnya dominan merah hingga cokelat terang. Bagian bawah tubuh biasanya terlihat lebih pucat. Kucing merah juga memiliki telinga kecil dan bulu pendek yang lebat. Salah satu ciri utama dari kuncing ini ialah pola menyerupai huruf M pada bagian dahinya.
Di sisi lain, kucing merah juga termasuk salah satu kucing liar yang sulit orang jumpai. Sifatnya yang pemalu dan kebiasaannya hidup di kawasan berhutan membuat perjumpaan langsung dengan spesies ini sangat jarang terjadi.
Keberadaannya bahkan sempat lama menjadi misteri bagi dunia penelitian. Para peneliti lebih sering mengandalkan kamera pengintai untuk merekam keberadaan kucing merah di habitatnya. Dokumentasi tersebut membantu mengungkap persebaran dan aktivitas spesies yang sulit orang amati secara langsung.
Selain itu, Catopuma badia termasuk mamalia yang mendapat perlindungan di Indonesia. Karena itu, keberadaan kucing merah di alam tidak hanya menarik bagi peneliti. Spesies ini juga menjadi bagian penting dari keanekaragaman satwa khas Kalimantan.
Kucing Batu
Kucing batu atau marbled cat (Pardofelis marmorata) merupakan jenis kucing liar yang tersebar di Asia Selatan dan Asia Tenggara. Di Indonesia, spesies ini dapat kamu temukan di Sumatra dan Kalimantan, terutama di kawasan berhutan.
Kucing ini memiliki bulu berwarna kuning kecokelatan hingga abu-abu. Pola gelap pada tubuhnya terlihat menyerupai marmer, sehingga spesies ini terkenal dengan sebutan marbled cat. Kucing batu juga memiliki telinga pendek dan membulat serta bulu yang tebal dan lembut.
Salah satu ciri menariknya terletak pada ekor yang sangat panjang. Panjang ekornya dapat mendekati panjang tubuhnya. Ciri tersebut membantu kucing batu menjaga keseimbangan ketika bergerak di antara pepohonan.
Kucing batu juga terkenal sebagai kucing liar yang memiliki kemampuan memanjat dengan baik. Karena itu, struktur hutan yang masih terhubung menjadi bagian penting dari ruang hidupnya.
Di Indonesia, Pardofelis marmorata termasuk mamalia yang mendapat perlindungan. Jadi, meskipun ukurannya tidak jauh berbeda dari kucing rumahan, kucing batu tetap merupakan satwa liar yang harus hidup di habitat alaminya.
Kucing Emas Asia
Kucing emas Asia (Catopuma temminckii) merupakan salah satu kucing liar berukuran sedang. Di Indonesia, spesies ini dapat orang temukan di sejumlah kawasan berhutan, terutama di Sumatra.
Kucing ini memiliki variasi warna yang cukup beragam. Warna bulunya dapat terlihat emas kecokelatan, merah, abu-abu, hingga cokelat gelap. Ukuran tubuhnya juga lebih besar daripada kucing domestik. Bentuk wajah dan garis pada bagian kepala membantu membedakannya dari beberapa spesies kucing liar lain.
Kucing emas Asia kini berstatus Vulnerable atau rentan dalam IUCN Red List. Status tersebut menunjukkan bahwa spesies ini menghadapi risiko kepunahan yang lebih tinggi di alam.
Perubahan dan berkurangnya kawasan hutan menjadi salah satu tekanan terhadap keberadaan kucing emas. Satwa ini membutuhkan habitat yang menyediakan ruang jelajah dan sumber makanan untuk bertahan hidup.
Di Indonesia, Catopuma temminckii juga termasuk dalam kelompok mamalia yang mendapat perlindungan. Karena itu, masyarakat tidak boleh menangkap atau memelihara kucing emas sebagai hewan rumahan. Jadi, meskipun spesies ini menampilkan wujud yang menarik dan menyerupai kucing lucu Indonesia, kucing emas tetap harus mendiami habitat alaminya.
Baca Juga
- 21 Hewan Dasar Laut Misterius, dari Lucu sampai Seram!
- 5 Rekomendasi Kebun Binatang Bandung Terbaik untuk Liburan Keluarga
- 10 Kebun Binatang di Indonesia yang Cocok untuk Liburan
- 24 Jam di Ubud Ngapain Aja? Ini Itinerary Untukmu!
Recharge Energi dengan Bobopod atau Bobocabin

Mengenal satwa liar bisa menjadi cara menarik untuk melihat kekayaan alam Indonesia. Namun, setelah menjalani aktivitas sehari-hari, kamu tentu juga perlu waktu untuk beristirahat.
Jika kamu ingin menjelajahi hiruk-pikuk kota, Bobopod siap menemanimu dengan fasilitas pod kapsul berteknologi tinggi, Mood Lamp yang bisa kamu atur sesuka hati, dan koneksi Wi-Fi super ngebut.
Kalau kamu mencari ketenangan alam, Bobocabin menawarkan pengalaman glamping modern dengan Smart Window, kamar mandi dalam dengan water heater, dan area api unggun yang cozy.
Kamu juga bisa memanfaatkan promo BOOKEARLY untuk mendapatkan potongan hingga 20%. Promo ini berlaku sesuai periode dan syarat yang tercantum pada halaman resmi Bobobox.
Sebelum merencanakan perjalanan, cek kembali detail promo dan ketersediaan lokasi. Harga penginapan dapat berubah sesuai waktu dan ketersediaan. Yuk, rencanakan waktu istirahatmu dan lakukan reservasi pod/cabin favorit dengan download aplikasi Bobobox sekarang!
Header image by: Wirestock via freepik




