Bagi sebagian orang, mendaki gunung termasuk kegiatan yang menyenangkan. Namun, mendaki bukan cuma sekadar berjalan-jalan di hutan. Ada sejumlah faktor penting yang musti kita pertimbangkan seperti etika dan aturan, jalur pendakian, hingga kondisi alam. Karenanya, tak sedikit kasus pendaki gunung hilang, bahkan ada yang sampai nyawanya melayang.
Nah, berikut ini adalah kasus-kasus terbaru seputar hilangnya sejumlah pendaki gunung di Indonesia dan berhasil ditemukan dalam keadaan selamat. Yuk intip kisahnya!
6 Kasus Pendaki Gunung Hilang yang Tersohor di Indonesia

Faiz Hidayat di Gunung Seulawah
Kasus pendaki gunung hilang yang terbaru datang dari Faiz Hidayat (23) yang sempat hilang saat mendaki Gunung Seulawah, Aceh. Ia berangkat bersama beberapa rekannya pada Minggu pagi, 31 Mei 2026.
Rombongan tersebut mulai mendaki sekitar pukul 09.00 WIB dan berhasil mencapai puncak sekitar pukul 12.30 WIB. Namun, Faiz kemudian terpisah dari rombongan hingga keberadaannya tidak diketahui.
Tim SAR gabungan pun melakukan pencarian di sekitar kawasan Gunung Seulawah. Setelah lima hari menyisir area pencarian, kabar baik akhirnya datang pada Jumat sore, 5 Juni 2026.
Seorang warga yang sedang berkebun menemukan Faiz di kawasan Lam Teuba Dro, Kecamatan Seulimum, Aceh Besar. Ia menemukan Faiz dalam kondisi selamat dan kemudian menyerahkannya kepada tim SAR agar memperoleh penanganan lebih lanjut.
Muhammad Dzikri Maulana di Gunung Ijen
Kabar melegakan datang dari kawasan TWA Kawah Ijen, Banyuwangi. Pasalnya, tim SAR akhirnya menemukan seorang remaja bernama Muhammad Dzikri Maulana (16) yang sempat masuk ke daftar kasus pendaki gunung hilang selama dua hari.
Rekan dan keluarga sebelumnya melaporkan bahwa mereka tidak mengetahui keberadaan Dzikri saat ia berada di kawasan pendakian pada Rabu, 18 Februari 2026. Tim SAR gabungan pun kemudian bergegas menyisir area sekitar untuk mencarinya.
Pencarian akhirnya membuahkan hasil ketika relawan mendengar suara dari balik rimbunnya pakis gunung. Setelah relawan memeriksanya, suara tersebut ternyata berasal dari Dzikri yang berada di balik tanaman. Setelah tim berhasil menemukannya, Dzikri menyampaikan permintaan pertama yang cukup sederhana, yaitu meminta relawan membawakan air supaya ia bisa minum.
Putu dan Ridho di Gunung Agung
Kasus pendaki gunung hilang juga pernah terjadi di Gunung Agung, Bali, pada Desember 2024. Dua pendaki, Putu Diki Adi Warta (27) dan Ridho Adi Yudistira (22), sempat terpisah dari rombongan saat perjalanan turun.
Keduanya merupakan bagian dari kelompok yang berisi lima pendaki. Saat turun pada 24 Desember 2024, Putu dan Ridho mengambil jalur berbeda dari tiga rekannya. Ketiga pendaki lainnya berhasil kembali dengan selamat, sedangkan tim SAR belum mengetahui keberadaan Putu dan Ridho.
Rekan mereka kemudian melaporkan kabar mengenai kedua pendaki tersebut kepada Basarnas pada 25 Desember 2024. Tim penyelamat langsung melakukan pencarian untuk menemukan keduanya di kawasan Gunung Agung.
Putu menjadi pendaki pertama yang tim SAR temukan pada Jumat pagi, 27 Desember 2024. Tim penyelamat menemukannya di ketinggian sekitar 1.300 meter di atas permukaan laut saat ia sedang berusaha mencari jalan turun.
Dalam perjalanan tersebut, Putu bertemu dengan seorang warga setempat yang hendak menghadiri upacara keagamaan. Pertemuan itu kemudian membantu Putu menemukan jalan keluar dari kawasan gunung.
Tidak lama berselang, tim penyelamat juga menemukan Ridho. Ia berada di sekitar sungai dan air terjun pada ketinggian sekitar 1.700 meter di atas permukaan laut.
Berbeda dengan Putu, Ridho saat itu mengalami patah tulang pada bagian kaki. Kondisi tersebut membuatnya membutuhkan bantuan medis untuk proses evakuasi dari lokasi.
Kasus Pendaki Gunung Hilang di Gunung Balease
Rekan pendaki sempat melaporkan tiga pendaki senior asal Tasikmalaya, yaitu Maman (49), Tantan (56), dan Yudiana (47), hilang saat menjelajahi Gunung Balease, Luwu Utara.
Ketiga pendaki tersebut merupakan bagian dari komunitas Jarambah QC. Mereka berencana menjelajahi tiga gunung, yaitu Toelangi, Balease, dan Kabentonu, dalam ekspedisi yang mereka jadwalkan pada 6 – 19 November 2024 melalui jalur Desa Bantimurung.
Sesuai rencana, mereka seharusnya sudah kembali pada 19 November. Namun, hingga 22 November, ketiganya belum juga tiba di kaki gunung. Warga kemudian melaporkan kasus pendaki gunung hilang ini kepada tim SAR. Beruntung, sebelum komunikasi terputus dan warga menyatakan mereka hilang, mereka sempat mengirim sebuah video ke grup Whatsapp.
Setelah 3 hari tepatnya pada 25 November, pencarian akhirnya membuahkan hasil. Tim Alpha Basarnas menemukan ketiganya di Pos 4 Jalur Tamboke dalam kondisi selamat. Komunitas pencinta alam di Tasikmalaya pun menyambut hangat kepulangan mereka.
Dafi di Gunung Ciremai
Kesalahan dalam memilih arah ternyata membuat Dafi (15) terpisah dari rombongan saat turun dari Gunung Ciremai, Jawa Barat (6 Agustus 2023). Remaja bernama lengkap Muhamad Dafiar Akbar itu awalnya mendaki melalui jalur Linggasana.
Setelah mencapai puncak, Dafi berusaha turun bersama rombongan pendakian tradisional yang saat itu berjumlah kurang lebih 150 orang. Namun, ia justru mengambil jalur yang salah ketika sampai di persimpangan Linggarjati dan Linggasana.
Dafi kemudian bertemu pendaki lain yang mencoba membantunya menemukan arah. Sayangnya, orang-orang tetap tidak mengetahui keberadaannya hingga warga mulai melakukan pencarian. Sekitar 30 orang ikut menyisir kawasan Gunung Ciremai untuk mencari Dafi, sebelum akhirnya seorang petani menemukannya keesokan harinya (7 Agustus 2023) di Desa Sayana, yang ternyata jaraknya 6 km dari jalur Linggasana.
Beruntungnya, kondisi Dafi sehat dan selamat, meski tubuhnya mendapat beberapa luka lecet karena ia sempat jatuh terpeleset. Kasus pendaki gunung hilang ini menunjukkan bahwa mengenali jalur sama pentingnya dengan menyiapkan fisik.
Gibran, Gunung Guntur
Rekan pendaki melaporkan Muhammad Gibran Arrasyids (14 tahun) menghilang pada Minggu (19/9/2021) di Gunung Guntur, Kabupaten Garut. Kuncen gunung bernama Ade Leji kemudian menemukannya dalam keadaan selamat dengan luka kecil di kaki. Hal ini terjadi pada Jumat (24/9) di kawasan Curug Cikoneng yang sebenarnya sudah tim pencari sisir.
Banyak pihak mengetahui bahwa Gibran mulai mendaki sejak Sabtu (18/9) bersama rombongan open trip. Saat teman-temannya menuju puncak pada Minggu pagi, Gibran memilih tetap di tenda yang berada dalam kawasan Pos 3. Namun, setelah rombongan kembali, Gibran sudah tidak ada di tenda.
Menurut penuturan Gibran, ia tengah tidur di dalam tenda, lalu ketika bangun, dia sudah ada di dekat curug. Selama menghilang, ia mengaku tidak pernah merasakan malam hari sebab kondisinya selalu terang. Ia juga tidak melihat ataupun mendengar suara orang-orang yang mencarinya.
Pelajaran Apa yang Bisa Diambil dari Kasus Pendaki Gunung Hilang?
Berbagai kasus pendaki yang sempat hilang di atas menunjukkan bahwa kondisi darurat bisa terjadi karena banyak hal. Mulai dari terpisah dari rombongan, salah mengambil jalur, dan sebagainya.
Kasus pendaki gunung hilang ini juga mengingatkan bahwa persiapan dan pengalaman saja belum cukup tanpa kewaspadaan selama perjalanan. Beberapa hal yang sebaiknya pendaki perhatikan antara lain:
- Rencanakan rutemu dan pahami jalur pendakian
- Hindari berjalan sendirian, terutama di jalur yang belum familiar.
- Selalu sedia perlengkapan penting seperti P3K atau obat pribadi, air, makanan, dan navigasi.
- Jangan panik saat tersesat dan cari lokasi aman sambil menunggu bantuan.
Segera laporkan pendaki yang hilang.
Mendaki gunung bukan sekadar tentang bagaimana caranya mencapai puncak. Pendaki juga perlu memahami batas kemampuan diri dan mengerti kondisi alam.
Baca Juga
- 12 Tips Mendaki Gunung bagi Pemula, Awas Ketagihan!
- 7 Tips Mendaki Gunung Rinjani, Siap Taklukkan Puncaknya?
- Pecinta Alam? Ini 6 Perlengkapan Mendaki Gunung untuk Pemula
- 9 Hal yang Kamu Harus Tahu Sebelum Mendaki Gunung Semeru!
Menyatu dengan Alam Bersama Bobocabin

Jika ingin menikmati suasana alam tanpa pendakian panjang yang melelahkan, yuk cobain Bobobocabin. Akomodasi penginapan dari Bobobox ini siap menemani kamu merasakan tenangnya alam dalam balutan teknologi canggih.
Kabinnya dirancang dengan konsep futuristik yang dilengkapi dengan teknologi Internet of Things. Teknologi tersebut dapat digunakan untuk pengaturan lampu, pintu, jendela dan Bluetooth speaker. Jangan khawatir soal masalah internet. Bobocabin juga dilengkapi dengan Wi-Fi kencang lho!
Kalau ingin menginap bareng orang-orang tersayang tanpa bikin budget membengkak, tenang, ada ekstra potongan harga up to 20% buat kamu yang booking minimal 2 kabin (S&K berlaku). Promo ini berlaku sampai 31 Agustus 2026 ya, jadi jangan sampai kelewatan tanggalnya.
Biar makin gampang booking-nya, segera download aplikasi Bobobox dan temukan berbagai pilihan kabin di daerahmu. Jangan lupa ajak orang-orang tersayang ya, biar makin ramai, makin seru, dan pastinya makin hemat!
Header image by: Azinumoto on Unsplash




